Unpad Raih Satu Perak di Pimnas XXVI

[Unpad.ac.id, 12/09/2013] Universitas Padjadjaran meraih satu penghargaan setara perak di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) XXVI Tahun 2013. Penghargaan tersebut diraih tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan dengan karya “Q-Art Code: Cinderamata dengan Pesan Rahasia, Memanfaatkan Teknologi Quick Response Code sebagai Peluang Usaha dalam Industri Kreatif di Indonesia”. Juara umum Pimnas XXVI diraih oleh Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

Tim PKMK “Q-Art Code” yang meraih penghargaan setara perak foto bersama dengan dosen pendamping, Dr. Cukup Mulyana, dan Ketua Lembaga Pengembangan Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni Unpad, Dr. Ir. Heryawan Kemal Mustafa, M.Sc., di halaman Rektorat Universitas Mataram (Foto oleh: Erman)*

Tim PKMK “Q-Art Code” yang meraih penghargaan setara perak foto bersama dengan dosen pendamping, Dr. Cukup Mulyana, dan Ketua Lembaga Pengembangan Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni Unpad, Dr. Ir. Heryawan Kemal Mustafa, M.Sc., di halaman Rektorat Universitas Mataram (Foto oleh: Erman)*

Pimnas XXVI ditutup oleh Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Prof. Agus Subekti, MSc., PhD., di halaman Rektorat Universitas Mataram, Jln. Majapahit Mataram, NTB, Kamis (12/09) malam. Sementara tuan rumah penyelenggara Pimnas tahun depan masih akan ditentukan kemudian karena ada dua nominasi tuan rumah.

“Ada dua calon tuan rumah penyelenggara Pimnas tahun depan, yaitu Universitas Pendidikan Indonesia Bandung dan Universitas Diponegoro Semarang. Keputusannya masih akan menunggu survei kelayakan yang akan dilakukan. Kepada calon tuan rumah Pimnas 2014, kiranya pelaksanaan yang bagus di Universitas Mataram ini bisa dijadikan contoh,” ujar Prof. Agus Subekti.

Dengan hasil yang diraih kali ini, Unpad tidak berhasil mempertahankan posisi di 10 Besar. Tahun lalu, Unpad berada di 10 Besar dengan raihan satu penghargaan setara emas, tiga penghargaan setara perak, dan dua penghargaan setara perunggu.

“Jika melihat hasil, tentunya ini mengecewakan bagi kita semua. Kita perlu membenahi sistem yang ada. Kita perlu membenahi organisasi kemahasiswaan agar lebih solid lagi sehingga fungsi pendampingan, koordinasi dengan fakultas, fungsi pembinaan, tetap ada. Di bulan-bulan terakhir ini, situasi aktivitas kemahasiswaan memang kurang mendukung,” ujar Ketua Lembaga Pengembangan Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni Unpad, Dr. Ir. Heryawan Kemal Mustafa, M.Sc.

Sementara Dr. Cukup Mulyana, MA., dosen pendamping tim PKMK “Q-Art Code” mengaku senang tim bimbingannya berhasil meraih penghargaan di Pimnas XXVI. Menurutnya, keberhasilan ini karena para mahasiswa memang sudah sangat serius mempersiapkan karya ilmiahnya. “Meraka sudah mempersiapkan semua materi dengan matang, saya hanya sedikit mengarahkan saja. Secara substansi, karya mereka bagus. Saat presentasi juga bagus dengan sentuhan drama,” ujar Dr. Cukup.

3rd note – Pit Stop

Oleh: Fenfen Fenda Florena (ketua LDK DKM Unpad 2011)

 

gloc_virg_silv_2010

Apakah Anda penggemar Grand Prix? atau sesekali pernah menonton Grand Prix? Kejuaraan mobil super cepat Formula 1 yang diikuti oleh puluhan negara dan diminati oleh jutaan pasang mata di berbagai belahan dunia. Jika ya, selain mengenal siapa pembalap yang Anda Jagokan, Anda juga pasti mengetahui sebuah fitur paling menegangkan, yakni Pit Stop. Pit Stop merupakan salah satu fitur GrandPrix yang paling menegangkan sekaligus menarik. Menang dan kalah kerap ditentukan oleh pit stop dan pit crews. Bayangkan, hanya dalam hitungan detik, sejumlah aktivitas krusial harus dilakukan oleh pit crews dengan sempurna, tidak boleh ada satu kesalahan kecil sekali pun.

Tingkat kerumitannya berada pada level advance, tidak percaya? Mari kita simak durasi dan aktivitas yang harus dikerjakan, pra, saat dan pasca pit stop. Satu lap sebelum jadwal memasuki pit stop, tim mengkonfirmasi pembalap untuk bersiap memasuki pit stop melalui radio. 10 detik, mobil balap memasuki jalur pit. 3 detik, mobil memasuki garasi. 0 detik (saat pit stop), pembalap mengatur gigi pada kondisi netral dan menginjak pedal rem. “wheel gun crews’ menggunakan senjata udara untuk mengangkat mur roda, pada saat yang sama, mobil diangkat dengan dongkrak. 1,5 detik, selang pengisi bahan bakar dihubungkan. 2 detik, wheel off crews mengangkat keempat roda, wheel on crews menempatkan roda baru. Crew yang lain membersihkan kaca helm. 3 detik, keempat roda sudah terpasang, wheel gun crews mengencangkan mur roda. Setelah selesai, mereka mengangkat tangan untuk memberi sinyal bahwa semua berjalan lancar. 4 detik, semua roda sudah terpasang, dongkrak menurunkan mobil. 5,5 detik, lollipop man memberikan sinyal kepada pembalap untuk memilih gigi satu. 6,5 detik, selang pengisi bahan bakar dicabut, dalam durasi 0,3 detik pembalap harus tancap gas. 7 detik, mobil berada di jalur lintasan, tutup bahan bakar tertutup otomatis, pembalap siap kembali ke arena balapan.

Banyak orang beranggapan bahwa semakin cepat durasi pit stop, semakin besar potensi untuk memenangkan balapan. Namun, cepat saja ternyata tidak cukup. Pit stop harus efektif, akurat dan cepat atau dengan kata lain, dilakukan oleh orang-orang yang cakap. Itulah pit stop  berkualitas. Begitu pun dalam perjalanan kehidupan kita, di sela kesibukan kita dalam menjalankan agenda kehidupan, ternyata ada baiknya kita menyempatkan waktu walau sejenak untuk memasuki jalur pit stop untuk melakukan pembenahan dan penyesuaian diri. Adakalanya kita terus menerus ‘kalah’ dalam berbagai ‘pertarungan’, baik dalam hal kuliah, dakwah juga maisyah.  Misalkan, IPK terus melorot, padahal sudah memasuki semester akhir. Amanah dakwah banyak yang tidak terselesaikan dan berujung tidak maksimal, bersamaan dengan kondisi keuangan yang seret. Lalu ditambah dengan adanya perasaan gundah akibat tidak kunjung mendapatkan kepastian untuk mendapatkan calon istri/suami yang diidamkan. Maka, ketika itu terjadi, mari kita coba tengok ke belakang, adakah satu dari beberapa tingkah laku kita yang menyalahi tikungan-tikungan rute visi hidup kita? Adakah niat kita yang berbelok dari garis awal keridhan Allah swt? Untuk siapa dakwah kita? atas alasan apa kuliah kita?  jika terdapat kekeliruan, maka tandai dan benahi agar di hari esok kita tidak mengulangi kesalahan yang sama, jika tidak, maka jangan lantas bergembira, karena di depan, masih ada jalanan yang terjal dan berliku yang menunggu kita.

Memasuki jalur pit stop, artinya kita memantapkan kembali semangat dan amal agar sesuai dengan arena kita sebagai seorang muslim paripurna. Muslim yang memberikan ketaatan semata-mata hanya kepada Allah, menjalani ragam kehidupan dengan syariat yang Allah tentukan, dan menantikan kehidupan akhirat yang Allah gariskan. liLlah, biLlah, ilaLlah.

Beristirahat sejenak memang penting, namun jika terlalu lama akan mendatangkan celaka karena terlalu lama beristirahat artinya memberikan kesempatan bagi rasa malas untuk membombardir susunan keyakinan yang sudah ditata.  Seperti halnya dalam sebuah kapal, kemalasan bagaikan ton-ton jangkar penambat yang menyebabkan kapal tersebut malah teronggok dan tenggelam di sisi dermaga. Padahal sebuah kapal dicipta untuk berlayar di samudera biru yang luas menuju pulau yang dituju.  Kemalasan membuat kita berdiam diri terlalu lama hingga kehilangan gairah dan semangat untuk bergerak meraih pencapaian hidup, lalu membiarkan pohon impian kita berguguran menyisakan ranting-ranting penyesalan.

‘Istirahat’ yang berkualitas adalah pit stop yang berkualitas, mari menjalani pilihan hidup dengan pertimbangan yang matang, dengan menjadikan dakwah sebagai poros usia, memilih pendamping hidup terbaik untuk kita jadikan sebagai partner dan ibu bagi anak-anak kita, serta kesibukan yang berkorelasi dengan visi hidup kita. Berat atau ringan, semuanya melahirkan keputusan yang akan menentukan kehidupan kita nanti.

 

The time to life at its simplest meaning, the crucial moment that determines our fate in living afterlife. Oh Allah, keep us in firm on the straight path and make us as inhabitant in Your eternal Jannah. Amiin, yaa mujibassa’ilin.

 

 

Dakwah : Kewajiban atau profesi?

kajian fiqih september

MUP PRESS. Rabu 4/9/2013 Lembaga Dakwah kampus Dewan Keluarga Masjid Universitas Padjadjaran (LDK DKM Unpad) mengadakan kajian Fiqih Kontemporer.

Kajian yang rutin dilaksanakan setiap bulannya, kali ini mengangkat tema “Haramkah memperjualbelikan ayat Allah?” dibawakan oleh Ust Hisyam Mansur, S.Ip (aktivis bakti DKM Unpad / Direktur perencanaan dan pengembangan organisasi DKM Unpad),.

Ust Hisyam memaparkan dengan gamblang fakta yang terjadi di masyarakat, bahwa ada 2 tipe ustadz yang sering kita lihat. Tipe pertama adalah seorang ustadz yang dengan ikhlas mengajarkan ilmunya walaupun tidak dibayar, ia rela pergi ke pelosok-pelosok pedesaan demi melaksanakan tugas mulianya. Mereka tidak terkenal bahkan tidak terbetik sedikitpun dalam benak ustadz tersebut untuk terkenal.

Adapun tipe kedua, terdapat ustadz yang menjadikan dakwah sebagai ladang bisnis, sebagai sumber penghasilannya sehari-hari. Mereka dengan gayanya yang mengejar ketenaran, mengejar masa demi tujuan materi. Bukan timbul dari kesadaran bahwa dakwah itu wajib.

kajian fiqih september2

Pembicara kemudian menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan munculnya ustadz tarif. Diantaranya :

– Sistem kapitalisme yang melahirkan sistem sosial yang serba materi oriented.

– Pergeseran paradigma Da’wah (dari Perintah menjadi profesi, menyampaikan apa yg diinginkan masyarakat bukan yang dibutuhkan masyarakat)

– Kesejahteraan para mualim.

– Minimnya peran negara dalam mendukung aktivitas da’wah.

Menjamurnya ustadz tarif baru-baru ini sebenarnya lebih disebabkan oleh sistem kapitalis yang saat ini diterapkan”. Begitulah statement dari pemateri kajian fiqih edisi September LDK DKM unpad.

kemudian menjelaskan bahwa aktivitas dakwah bukan sebuah profesi tetapi kewajiban seorang muslim, yang harus dilaksanakan oleh semua kalangan baik mahasiswa, dosen, tukang becak, dan lain-lain.

Seperti halnya kewajiban yang lain, dakwah tidak boleh dilandasi oleh nilai-nilai material, apalagi ditarif. Karena dakwah tidak boleh dijadikan ladang bisnis. Tapi, yang namanya wajib tentunya harus dilaksanakan karena dorongan iman, sebagai bentuk pelaksanaan dari perintah Allah swt. Kemudian ustadz Hisyam mencontohkan dengan kewajiban-kewajiban yang lain yang pelaksanaannya harus betul-betul dilandasi keikhlasan dan sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya. “tidak boleh tidak jadi melaksanakan shalat karena tidak ada biaya, juga tidak boleh tidak jadi shaum karena tidak dibayar, kalo yang seperti itu namanya dagang, bukan ibadah” ungkap ustadz hisyam.

Tidak cukup sampai disitu, pembicara pun menjelaskan bahwa seorang ustadz ketika diberi upah Karena ia mengajarkan ilmunya, atau karena dakwahnya, ia boleh mengambilnya. Dengan catatan tidak boleh mematok tarif dan memberatkan umat atau bahkan menghalangi umat untuk memperoleh pengajaran.

Barang siapa yang ditanya mengenai suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, niscaya ia akan dipecut oleh Allah swt di hari kiamat nanti dengan tali pecut dari neraka” (HR Abu Daud, Turmudzi dan Ibnu Majah

Peserta kajian pun begitu antusias mengikuti acara kajian fiqih tersebut. Diantara mereka pun aktif bertanya kepada pembicara seputar fenomena-fenomena yang terjadi dalam dunia dakwah.  [TS]

Bagi Anda yang ingin mendapatkan materi kajian ini, silakan diklik Kajian fqh da’wah

Kajian Tafsir Al-Quran: Surat At-Tin ayat 1-8

Kajian Tafsir Al-Quran: Surat At-Tin ayat 1-8

Kajian Tafsir Al-Quran: Surat At-Tin ayat 1-8

Mengikuti budaya Maghriban yang biasanya dilakukan di kalangan masyarakat pedesaan, di mana biasanya jamaah masjid lebih memilih untuk tetap tinggal di masjid sembari menunggu datangnya waktu isya, maka DKM UNPAD melaksanakan program ini. Kajian Tafsir Quran. Kajian ini, insya allah akan senantiasa diisi oleh Ustadz Otong N. Ahmad, S.Si,M.Si yang merupakan pembina masjid unpad sekaligus merupakan dosen tetap FMIPA UNPAD.

Bertempat di Masjid Raya Ibnu Sina, Unpad, Selasa (3 September 2013), sebanyak puluhan mahasiswa mengikuti telaah Al-Quran Surat At-Tin ayat 1-8. Salah satu inti dari isi tausyiah yang disampaikan adalah bagaimana menyadari bahwa sesungguhnya manusia itu diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya. Namun, manusia banyak yang pada akhirnya ditempatkan kepada kerendahan yaitu neraka yang disebabkan hilangnya rasa syukur dan tercabutnya keimanan. Sehingga ada amalan yang tak akan terputus, yaitu keimanan itu sendiri yang seharusnya dijaga di setiap waktu,kondisi dan tempat kita berada.

Para jamaah kajian begitu antusias mendengarkan kajian ini. Renyah dan dimengerti. Bahasa yang disampaikan oleh Ustadz Otong membuat para peserta kajian bisa mengerti maksud yang tersampaikan. Insya Allah, acara ini akan menjadi kegiatan rutin yang diadakan dalam rangka memakmurkan masjid Allah. (ZRP)

Ilmu: Kunci Kesuksesan Dunia dan Akhirat

Ilmu: Kunci Kesuksesan Dunia dan Akhirat

Ilmu: Kunci Kesuksesan Dunia dan Akhirat

Pernah gak, sih, kita berpikir, “buat apa kita sekolah sejak kecil hingga dewasa?”. OK lah, mungkin ilmu kelas satu SD dulu -membaca, menulis dan menghitung- sungguh sangat bermanfaat hingga kita dewasa. Tapi, bagaimana dengan pelajaran IPA SD kita? IPS kita? Biologi, Kimia, Matematika, Fisika, dan yang lainnya, seringkah kita amalkan? Ada sebagian orang yang berpikir, “ya kita menuntut ilmu agar kita pintar, kalo kita pintar kita bisa dapat kerja yang bagus, terus nanti kita kaya deh!” Sesempit itu kah? Kalau memang hasil akhir dari kita menuntut ilmu hanya untuk sekedar mendapatkan ijazah, kerja dan kaya saja, sungguh buang-buang waktu. Toh orang lain juga ada yang lebih kaya, padahal dia gak menempuh pendidikan yang tinggi. Mau contoh? Bill Gates, pendiri dan ketua umum perusahaan perangkat lunak AS, Microsoft. Siapa sangka dia ternyata di DO dari Harvard dan sebelumnya pernah bekerja sebagai Office Boy. Kemudian Mark Zuckerberg, dia mengembangkan sebuah situs penghubung mahasiswa Harvard menjadi Facebook. Dan tahukah teman? Dia pun di DO dari Harvard sebagaimana Bill Gates. Dan banyak lagi contoh yang dia sukses tapi dia tak sempat berpendidikan tinggi. Continue reading