Ironis, Penjaga Konstitusi Malah Melanggar Konstitusi

Oleh : Heraldo Yanindra Pradana1) 2) 3)

1) Divisi Propaganda, Lembaga Dakwah Kampus Dewan Keluarga Masjid (DKM) Universitas Padjadjaran

2) Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran

3) twitter on @aldoheraldo

Abstrak

Dewasa ini kasus korupsi kembali terjadi, saat ini menimpa ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Akil Mochtar. Ironis, lembaga yang berfungsi sebagai pemutus undang-undang malah melanggar undang-undang yang telah diputuskannya itu. Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa penangan kasus-kasus korupsi di Indonesia sesungguhnya masih dapat dianggap gagal. Padahal kasus yang ditangani tersebut masih tergolong kasus korupsi level mikro maupun meso. Belum menyentuh kasus korupsi level makro atau level negara, yang faktanya telah membawa kerugian yang besar bagi rakyat Indonesia. Oleh karena itu, menyelesaikan kasus korupsi di Indonesia hanya dengan mengandalkan aparat penegak hukum yang sekarang ini ada, termasuk di dalamnya adalah KPK, tidaklah mencukupi. Indonesia memerlukan perubahan yang besar dan yang lebih fundamental untuk menghadapi kasus-kasus korupsi yang terjadi, apalagi untuk menghadapi kejahatan korupsi korporatokrasi. Perubahan tersebut tidak lain adalah perubahan yang bersifat mendasar dan sistemik, yaitu dengan mengganti sistem hukum sekular saat ini dengan hukum syariah di bawah naungan Khilafah Islamiyah.

 Kata kunci : Korupsi, Korporatokrasi, Sekular, Syariah, Khilafah Islamiyah

Akil-Mochtar-Berantas-Korupsi

Tertangkap basahnya Akil Mochtar semasih aktif menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) oleh KPK  benar-benar menggemparkan, tak hanya di dalam negeri melainkan juga di luar negeri sebagaimana jadi pemberitaan ramai berbagai media massa. Bahkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD menyebut peristiwa ini memecahkan rekor dunia bagi pimpinan lembaga hukum yang ketangkap basah menerima suap dalam berperkara. Demam pembicaraan soal perilaku tak pantas Akil Mochtar pun menggelinding liar di semua lapisan masyarakat dan media sosialita. Nada miring berupa caci-maki dan sindiran mengalir bagai tak terkendali. Terbongkarnya kasus Akil Mochtar dalam dua kasus gugatan Pilkada masing-masing di Kabupaten Lebak (Banten) dan Kabupaten Gunung Mas (Kalteng) telah  melibatkan sejumlah tersangka lain dari berbagai kalangan. Ada anggota legislatif (Chairunnisa dari F-PG), birokrat (Hambib Bintih), pengacara (Susi Tur Handayani) dan pengusaha (Tubagus Chaeri Wardan alias Wawan dan Cornelis Nalau). Realitas ini meyakinkan publik betapa konspirasi terselubung yang mengindikasikan perilaku mafia peradilan itu memang nyata di negeri ini. Bahkan, barang bukti suap tukaran 294.050 dolar Singapura dan  22.000 dolar AS atau senilai Rp2-3 miliar yang kini berada di tangan penyidik KPK makin membuat publik betul-betul muak dan meragukan obyektivitas penegakan hukum di Tanah Air. Buntut kasus Akil Mochtar ini menyeruak ke mana-mana. Secara internal, di tubuh MK sendiri baru dirasakan perlu lembaga pengawasan bagi para hakim konstitusi. Alternatif penerbitan Perpu oleh Presiden SBY pun menuai kritik dan polemik panjang. Dalam soal pelanggaran etika oleh Akil pun berujung dengan pembentukan Majelis Kehormatan MK yang dipimpin oleh Harjono dan sejumlah anggota. Akil sendiri sudah dinyatakan non-aktif sementara oleh presiden sebagai Ketua MK.

Kasus Akil di tengah gencarnya upaya pemberantasan korupsi terutama diperankan pihak KPK terkesan sangat ironi. Bukankah hampir setiap hari di pemberitaan media massa baik media cetak, elektonik dan cyber, kepiawanan petugas KPK dalam mengungkap berbagai korupsi yang melibat pejabat publik dan pihak swasta diperlihatkan dengan gagah perkasa.  Salah satu peralatan jitu lembaga anti-korupsi itu dengan melakukan penyadapan. Akil pun tertangkap basah saat akan menerima uang suap di rumah dinas kediamaman di komplek perumahan pejabat negara. Lebih ironi lagi, saat penggeledahan di ruang kerja Akil di MK, pihak KPK selain menyita dokumen-dokumen negara yang penting juga menemukan narkoba berupa dua pil yang mengandung zat amfetamin yang ditengarai sebagai sabu-sabu berupa pil dan obat kuat lainnya. Indikasi perilaku tak terpuji Akil di tengah gersangnya keteladanan pemimpin di negeri ini makin memperlihatkan sosok Akil bak “musang berbulu domba.”

 Kerusakan Sistemik.

Direktur Pamong Institute Wahyudi Al Maroky menilai bahwa kerusakan sistem demokrasi sangat sistemik sehingga Mahkamah Konstitusi pun jadi celah korupsi untuk pemenangan Pilkada. “Celah itu ada pada MK sebagai pemutus. Di sinilah permainan uang itu bisa terjadi baik kepada yang kalah maupun yang sudah menang Pilkada,” ungkapnya seperti yang dilansir Tabloid Media Umat Edisi 113, Jum’at (11-24/10). Menurutnya, korupsi di negeri demokrasi ini sudah sangat sistemik. Salah satu faktor penyebabnya adalah biaya proses demokrasi yang sangat mahal. “Semakin tinggi level jabatan maka biaya makin mahal,” ungkapnya.

Celakanya, lanjut Wahyudi, korupsi itu dimulai justru dari atas ke bawah. Level bawah itu hanya mencontoh. Jika saja di atas bersih tentu tak sulit menindak dan membersihkan yang di bawah.  Karena sangat sistemik maka semua strata jabatan secara sistemik juga terkondisikan. “Maka orang yang baik sekali pun ketika masuk dalam sistem ini akan terpaksa menyesuaikan diri,” bebernya. Ia juga menyatakan, sengketa Pilkada melahirkan korupsi ini tentu tak terhindarkan. Sebab orang yang bertarung dalam pesta demokrsi yang bernama Pilkada itu sangat banyak keluar biaya. Jadi berharap jika menang akan kembali biaya itu. Yang menang tentu ingin amankan posisinya dengan berbagai cara. Yang kalah juga masih ingin memanfaatkan berbagai celah untuk bisa menang. Celah itu ada pada MK sebagai pemutus. Di sinilah permainan uang itu bisa terjadi baik kepada yang kalah maupun yang sudah menang Pilkada.

Bagaimana Ironi Ini Bisa Terjadi?

Menurut Mahfud MD, ketua Mahkamah Konstitusi sebelumnya, kecurangan yang didominasi motif politik uang menjadi marak. Karena jabatan politik lebih banyak disetir oleh cukong yang cenderung berorientasi keuntungan finansial. Sehingga, alur pelaksanaan pemilu yang memungkinkan sengketa hasil pemilu bisa diusut kepada lembaga peradilan juga digunakan untuk memuluskan keinginan pihak tertentu. Akibatnya, politik transaksional tidak hanya terjadi di lingkup penyelenggara pemilu. Tetapi juga merembet hingga pada mahkamah konstitusi tertinggi sekali pun. “Saat biaya politik semakin mahal, elite juga semakin jelek karena sistem yang dibangun mendorong ke arah korupsi. Malaikat masuk ke dalam sistem Indonesia pun bisa jadi iblis juga,” ucap Mahfud.

Kemudian menurut Rokhmat S. Labib, ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia, demokrasi merupakan sumber kekufuran dan kemaksiatan. Bahkan kini menjadi Biang Korupsi dan lebih bahaya lagi karena menjadi sumber kerusakan akidah umat islam. “Demokrasi itu lahir dari barat. Merupakan anak kandung kapitalis-sekuler. Menolak hukum-hukum dari Allah. Bahkan kalau Allah melarang berzina, maka aturan Allah ini tidak boleh diterapkan karena harus dapat persetujuan dulu dari DPR. Jadi dalam demokrasi, DPR lebih tinggi derajatnya dari Allah Swt. Ini membahayakan akidah umat dan sumber kekufuran,” ungkapnya.

Lebih lanjut Rokhmat menjelaskan akibat diterapkannya demokrasi, semua hukum yang Allah turunkan dalam al Qur’an itu tak boleh dilaksanakan sebelum mendapat persetujuan DPR. Inilah malapetaka awal yang melahirkan berbagai kemaksiatan, mulai dari akidah umat, perzinahan,  kriminalitas bahkan yang lagi ramai sekarang, korupsi merajalela sampai ke benteng penjaga hukum sekuler, ketua Mahkamah Konstitusi di tangkap KPK.

 Bagaimana Islam Memandang Hal Ini?

Sebagaimana kita ketahui, korupsi di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda berkurang atau turun kuantitas dan kualitasnya. Syariah Islam yang menjadi sandaran hukum Islam mempunyai tujuan menciptakan maslahah (kebaikan dan keseimbangan) dalam tatanan masyarakat. Upaya untuk mewujudkan kemaslahatan ini kemudian dalam bahasa Agama disebut dengan maqashidusy syariah. Diantara kemaslahatan yang hendak dituju tersebut adalah terpeliharanya harta (hifdhul mal), baik harta milik pribadi ataupun publik dari berbagai bentuk penyelewengan dan pelanggaran

Dalam berbagai sektor, korupsi seakan sudah menjadi bagian dari proses hidup bernegara. Tak ada satu departemen atau kementrianpun yang bebas dari korupsi. Demikian pula lembaga-lembaga penegakkan hukum juga tak lepas dari jamahan korupsi. Pendek kata, korupsi telah mencengkeram sendi-sendi kehidupan bernegara. Pertanyaannya adalah apakah korupsi yang telah merampas uang negara dan rakyat Indonesia ini tak terjamah oleh hukum? Apakah pedang keadilan menjadi tumpul ketika harus berhadapan dengan korupsi? Mungkin Hukum Islam Atas Tindak Pidana Korupsi dapat dijadikan solusi.

Islam merupakan Agama yang kaffah, yang tujuan diturunkannya adalah untuk menciptakan rahmah dan tata kehidupan yang baik serta menebar nilai-nilai ketuhanan. Dalam rangka ini, Islam memberikan tata aturan yang harus ditatati oleh pemeluknya. Tata aturan ini yang kemudian disebut dengan hukum Islam. Hukum Islam ini bersandar pada syariah Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Korupsi adalah kejahatan besar, maka Islam memberikan tata aturan jelas terkait masalah ini. Dan bagaimana Hukum Islam Atas Tindak Pidana Korupsi?

Syariah Islam yang menjadi sandaran hukum Islam mempunyai tujuan menciptakan maslahah (kebaikan dan keseimbangan) dalam tatanan masyarakat. Upaya untuk mewujudkan kemaslahatan ini kemudian dalam bahasa Agama disebut dengan maqashidusy syariah. Diantara kemaslahatan yang hendak dituju tersebut adalah terpeliharanya harta (hifdhul mal), baik harta milik pribadi ataupun publik dari berbagai bentuk penyelewengan dan pelanggaran, dan bentuk hukuman yang dijatuhkan untuk koruptor adalah berupa ta’zir. Bentuk ta’zir untuk koruptor bisa berupa hukuman tasyhir (pewartaan atas diri koruptor; misal diarak keliling kota atau di-blow up lewat media massa), jilid (cambuk), penjara, pengasingan, bahkan hukuman mati sekalipun; selain tentu saja penyitaan harta hasil korupsi. Menurut Syaikh Abdurrahman al-Maliki dalam kitab Nizham al-‘Uqubat fi al-Islam, hukuman untuk koruptor adalah kurungan penjara mulai 6 bulan sampai 5 tahun; disesuaikan dengan jumlah harta yang dikorupsi. Khalifah Umar bin Abdul Aziz, misalnya, pernah menetapkan sanksi hukuman cambuk dan penahanan dalam waktu lama terhadap koruptor (Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Ibn Abi Syaibah, V/528; Mushannaf Abd ar-Razaq, X/209). Adapun Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. pernah menyita seluruh harta pejabatnya yang dicurigai sebagai hasil korupsi (Lihat: Thabaqât Ibn Sa’ad,Târîkh al-Khulafâ’ as-Suyuthi). Jika harta yang dikorupsi mencapai jumlah yang membahayakan ekonomi negara, bisa saja koruptor dihukum mati.

 Khatimah

Solusi atas berbagai kemaksiatan selama ini hanya dengan diterapkan syariah dan Khilafah. Karena kita tak bisa berharap pada demokrasi untuk menerapkan syariah. Sebaliknya kita harus mencontoh nabi SAW yang telah sukses membangun peradaban yang agung. Saatnya kita tinggalkan demokrasi dan kembali mengambil warisan nabi kita dengan  berjuang dan berdakwah demi tegakknya syariah dan Khilafah. Wacana tentang perlunya menindak tegas para koruptor boleh saja terus bergulir, termasuk kemungkinan pemberlakuan hukuman mati. Namun persoalannya, di tengah berbagai karut-marutnya sistem hukum di negeri ini, didukung oleh banyaknya aparat penegak hukum yang bermental bobrok (baik di eksekutif/pemerintahan, legislatif/DPR maupun yudikatif/peradilan), termasuk banyaknya markus yang bermain di berbagai lembaga pemerintahan (ditjen pajak, kepolisian, jaksa, bahkan hakim dll), tentu wacana menindak tegas para koruptor hanya akan tetap menjadi wacana. Pasalnya, wacana seperti pembuktian terbalik maupun hukuman mati bagi koruptor bakanlah hal baru. Ini mudah dipahami karena banyaknya kalangan (baik di Pemerintahan, DPR maupun lembaga peradilan) yang khawatir jika hukuman yang tegas itu benar-benar diberlakukan, ia akan menjadi senjata makan tuan, alias membidik mereka sendiri.

Semua langkah dan cara di atas memang hanya mungkin diterapkan dalam sistem Islam, mustahil bisa dilaksanakan dalam sistem sekular yang bobrok ini. Karena itu, perjuangan untuk menegakkan sistem Islam dalam wujud tegaknya syariah Islam secara total dalam negara (yakni Khilafah Islam) tidak boleh berhenti. Sebab, tegaknya hukum-hukum Allah jelas merupakan wujud nyata ketakwaan kaum Muslim. Jika kaum Muslim bertakwa, pasti Allah SWT akan menurunkan keberkahannya dari langit dan bumi, sebagaimana firman-Nya:

 وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْض

Sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (QS al-A’raf [7]: 96).

 Lebih dari itu, Rasulullah SAW pernah bersabda,

“Penegakkan satu hukum hudud di muka bumi adalah lebih lebih baik bagi penduduk bumi daripada turunnya hujan selama 40 hari.” (HR Abu Dawd).

 Wallahu a’lam bi ash-shawab.

*Disampaikan di FGD LDK DKM Unpad pada tanggal 16 oktober 2013

Menggugat Agenda APEC

APEC-logo

Oleh : Muhammad Nur Irfan (Aktivis LDK DKM Unpad)*

Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) merupakan upaya kerjasama dari 21 negara dengan tujuan meningkatkan perdagangan bebas di kawasan Asia-Pasifik.

APEC pertama kali didirikan pada tahun 1989 di Canberra, Australia, dengan anggota awal sebanyak 12 negara.

Pada dekade pertama setelah pendiriannya, perekonomian negara-negara anggota menyumbang 70% pertumbuhan ekonomi global.

Menurut abjad, anggota APEC adalah Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chili, Cina, Hong Kong, Cina, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Papua Nugini, Peru, Filipina, Rusia, Singapura, Cina Taipei, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam.

21 anggota APEC mewakili 41% populasi global, 49% perdagangan internasional, dan 56% Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.

Tidak ada perjanjian yang harus ditandatangani karena APEC diikat melalui konsensus dan kerjasama yang mengacu pada “Bogor Goals” yang disepakati pada tahun 1994 di Bogor, Indonesia.

Bogor Goals bertujuan menciptakan perdagangan bebas dan terbuka serta meningkatkan investasi asing di negara anggota pada tahun 2010 untuk negara ekonomi maju, dan pada tahun 2020 untuk negara ekonomi berkembang.

APEC bekerja untuk membangun kebijakan anti-proteksionis di negara-negara anggota dengan mengurangi tarif dan menghilangkan penghalang bagi perdagangan bebas.

Dengan menyatukan sumber daya, negara-negara anggota dapat berbagi informasi dan meningkatkan kemakmuran bisnis dan individu.

APEC memberi manfaat bagi warga negara anggota dengan menciptakan lebih banyak kesempatan di tempat kerja, harga barang dan jasa yang lebih murah, dan meningkatkan kemampuan untuk berpartisipasi dalam pasar internasional.

Ada tiga bidang utama fokus APEC yaitu:
1. Liberalisasi Perdagangan dan Investasi
Di bidang ini, APEC bekerja untuk mengurangi tarif dan menghapus hambatan lain untuk mewujudkan perdagangan bebas.
2. Fasilitasi Bisnis
APEC bertujuan memfasilitasi interaksi bisnis antara negara-negara anggota dengan mengurangi biaya bisnis, berbagi informasi perdagangan, dan meningkatkan hubungan importir dan eksportir.
3. Kerjasama Ekonomi dan Teknik (ECOTECH)
Program ini mencakup memberikan kesempatan bagi negara-negara anggota untuk meningkatkan pelatihan dan pendidikan dalam perdagangan internasional.

Anggota APEC rutin bertemu setiap tahun sejak tahun 1993.Tuan rumah pertemuan digilir bergantian setiap tahunnya.

Di samping isu utama, APEC juga membahas berbagai isu aktual seperti perempuan di APEC, terorisme, standar transparansi, serta korupsi yang berpotensi mempengaruhi perdagangan.

APEC didanai oleh iuran tahunan dari setiap negara anggota dengan total nilai sekitar 3,38 juta Dolar AS per tahun.

Dana ini digunakan untuk mendanai program APEC serta membiayai Sekretariat yang terletak di Singapura.

Kepemimpinan dalam Sekretariat dijabat secara bergilir tergantung pada negara yang menjadi tuan rumah pertemuan.

Direktur Eksekutif dijabat oleh negara tuan rumah tahun itu, sedangkan Wakil Direktur Eksekutif berasal dari perwakilan negara tuan rumah tahun depan.

Pertemuan APEC tahun ini diselenggarakan di Bali 1-8 Oktober. KTT APEC ini mengusung tema “Resilient Asia Pacific, Engine of Global Growth (Asia Pasifik yang Tangguh sebagai Mesin Pertumbuhan Global)” dengan tiga prioritas: Pertama, attaining the Bogor Goals yaitu perluasan perdagangan dan investasi, serta reformasi struktural. Kedua, sustainable Growth with Equity, dengan fokus pada daya saing global UKM, inklusi finansial, ketahanan pangan dan kesehatan.Ketiga, promoting connectivity dengan fokus pada isu konektifitas fisik termasuk pengembangan dan investasi infrastruktur dan konektifitas kelautan, konektifitas institusional dan konektifitas antar orang.

Inti dari misi APEC adalah mewujudkan secara penuh liberalisasi dan fasilitasi perdagangan dan investasi di kawasan Asia Pasifik.Misi itu sudah diusung selama 24 tahun sejak dibentuk pada 1989.

Selama ikut APEC ekonomi Indonesia juga tumbuh cukup tinggi.Ketika menyampaikan RAPBN 2014 (16/8/2013) presiden SBY mengklaim sejumlah capaian ekonomi 2004-2013 (republika.co.id, 16/8/2013). Ekonomi Indonesia periode 2004-2009 rata-rata tumbuh 5,5 persen per tahun. Pada periode 2009 sd Juni 2013, ekonomi tumbuh rata-rata 5,9 persen per tahun.

PDB Indonesia meningkat dari US$ 1.177 per kapita, pada 2004, menjadi US$ 2.299 per kapita pada 2009, dan naik lagi menjadi US$ 3.592 per kapita pada 2012. Pada periode yang sama angka pengangguran terbuka turun dari 9,86 persen pada 2004 menjadi 5,92 persen pada Maret 2013. Dan berikutnya angka kemiskinan pun turun dari 16,66 persen atau 37,2 juta orang pada 2004 menjadi 11,37 persen atau 28,07 juta orang pada Maret 2013.

Data BPS, pendapatan nasional tiga tahun terakhir meningkat tajam, dari Rp 5.718,35 triliun tahun 2010, lalu Rp 6.660,23 triliun tahun 2011 dan berikutnya Rp 7.544,15 triliun tahun 2012. Pendapatan perkapita 2000-2012 naik drastis, yakni Rp 6,12 juta tahun 2000, Rp 9,16 juta tahun 2004, Rp 18,77 juta tahun 2008, Rp 23,76 juta tahun 2010 dan naik menjadi 30,52 juta tahun 2012. Artinya, tahun 2012 tiap orang penduduk berpenghasilan Rp 2,5 juta perbulan. Semua angka itu mengindikasikan rakyat Indonesia makin makmur.Benarkah?

Faktanya masih ada 28,07 juta lebih orang yang miskin, dengan kriteria pengeluaran kurang dari Rp 259.520 per orang perbulan. Bahkan data lain lebih tinggi. Menurut data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) di bawah koordinasi Wapres, jumlah orang miskin di Indonesia tahun 2012-2013 mencapai angka 96 juta jiwa. Angka ini naik signifikan dari angka 76,4 juta jiwa di tahun sebelumnya (lihat, nasional.kontan.co.id, 17/01/2013). Sementara itu jumlah keluarga miskin yang mendapat jatah raskin sebanyak 15,5 juta rumah tangga atau 62 juta orang (asumsi, satu rumah tangga terdiri dari empat orang).

Selain itu, pertumbuhan ekonomi lebih banyak dinikmati kelompok kaya.Ekonomi tumbuh disertai naiknya kesenjangan pendapatan.Hal ini bisa dilihat dari naiknya rasio gini (diukur 0-1, makin tinggi artinya kesenjangan pendapatan makin tinggi). Berdasarkan data BPS, angka rasio gini terus naik dari 0,32 tahun 2002, 0,357 tahun 2009, 0,38 tahun 2010 dan tahun 2012 naik menjadi 0,41. Angka terakhir ini artinya, 40 persen penduduk dengan pendapatan terendah hanya menikmati 16,88 persen dari total pendapatan, sementara 20 persen penduduk dengan pendapatan tertinggi justru menikmati 48,94 persen dari total pendapatan. Artinya separo dari total pendapatan nasional hanya dinikmati oleh 20 persen penduduk.

Pihak Gedung Putih AS memerintahkan seluruh kantor pemerintahan berhenti beroperasi setelah pihak Kongres tidak menyetujui anggaran baru hingga batas waktu yang ditentukan. Ini karena pihak legislatif tidak menyetujui anggaran baru, yang isinya antara lain menaikkan batas utang pemerintah sehingga bisa menjalankan negara. Saat ini, kas pemerintah AS menipis karena tidak diperbolehkan menambah utang, untuk menjalankan sejumlah program baru Presiden Barack Obama. (finance.cetik.com, 1/10)

Fakta di atas meruapakan salah satu fakta bahwa perekonomian Amerika Serikat. Krisis itu belum juga berakhir sejak 2008 silam.Ini menunjukkan bahwa sistem kapitalisme yang diterapkan di Amerika Serikat sudah mulai menunjukkan kerapuhannya.

Amerika Serikta tentunya tidak diam begitu saja. Mereka terus mencari cara agar mengatasi krisis perekonomian negaranya. Salah satunya lewat APEC. Dan yang jadi sasaran pengerukan dana ialah Indonesia.

Jadi sudah jelas bahwa Agenda APEC merupakan salah satu agenda kaum barat, kaum kafir untuk terus menguasai kaum muslim. Di Indonesia sendiri kaum muslimin sudah dijajah sejak era penjajahan belanda, dan peninggalannya sampai sekarang masih tetap lestari bahkan di konservasi.Dari segala bidang kita masih menggunakan peninggalan dari kaum barat imperialis.Dari segi pendidikan, ekonomi, pemerintahan, hokum bahkan pakaian.Jadi makna proklamasi tahun 45 itu sebenanya tidak terlalu berpengaruh bagi kehidupan masyarakat Indonesia.Jadi sistem yang ditinggalkan oleh penjajah barat belum hilang sampai saat ini dan mungkin masih mengakar.

Ditambah lagi dengan datangnya arus penjajahan model baru dari bangsa barat.Bahasa halusnya ialah globalisasi.Adanya APEC ini membuat proyek globalisasi yang Perusahaan dari mulai pangan hingga barang-barang keperluan sehari-hari.Sebagian besar saham dikuasai oleh asing.Indonesia hanya dijadikan objek bagi asing untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya.

Segala macam “rayuan” diucapkan oleh barat.Orang Indonesia yang menjadi agen barat pun ikut mendukukung, bahkan memfasilitasi mereka.Keuntungan yang didapat tentunya untuk diri pribadi.Para Kapital yang untung, rakyat yang buntung.

Dengan dibukanya pintu gerbang perekonomian pasar bebas, para kapital dengan mudah menguasai perekonomian Negara berkembang seperti Indonesia. Tarif bea masuk bagi para eksportir asing yang akan mengekspor barangnya ke Indonesia, mulai dikurangi. Sehingga barang dipasar pun bisa lebih murah dibandingkan dengan produk dalam negeri.Apa akibatnya? Pengusaha dalam negeri pun akhirnya gulung tikar.Apa yang dijanjikan pemerintah pun akhirnya hanya sebuah janji. Pengusaha gulung tikaar.Barat yang menggembar-gemborkan untuk membuka lapangan kerja, tetapi faktanya malah menutup lapangan kerja dengan menutup perusahaan local.Dari tahun ketahun, semakin terbukanya pasar dunia dan mudahnya perusahaan asing masuk ke Indonesia membuat tutupnya perusahaan local.Perusahaan local yang bermodal kecil, tidak sebesar perusahaan asing, maka digusur secara tidak langsung oleh asing.Contohnya yang masih hangat kasus kedelai.Bergantungnya Indonesia kepada impor kedelai membuat para imporitir mudh untuk memegang harga pasar. Di lain sisi pemerintah tidak memperdulikan produksi dalam negeeri yang dilakukan oleh para petani. Ini sudah menunjukan bahwa pemerintah saat ini tidak mendukung rakyat, justu mendukung barat.

Di hadapan lebih dari 1200 pemimpin bisnis dari 21 negara-negara APEC, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebut dirinya sebagai Chief Salesperson Indonesia Inc. “Sebagai Chief Salesperson Indonesia Inc, saya mengundang Anda untuk menjajaki peluang bisnis dan investasi di Indonesia,” ujarnya dalam pidato pembukaan acara APEC CEO Summit 2013, hari ini di Bali [] (Mediaumat.com 06102013)

Masihkah sistem demokrasi yang sangat menyengsarakan rakyat dapat anda percaya?masihkahada agenda Internasional yang pro-rakyat? Tentu kita paham, tidak ada makan siang yang gratis, apalagi demokrasi perlu biaya tinggi dan perlu dukungan restu dari Amerika sekutu Yahudi pembunuh para Nabi dan Ulama shalih hingga kini.

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ ، قُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ اَلْيَهُوْد وَالنَّصَارَى ، قَالَ فَمَنْ ؟

“ Sungguh kalian ( banyak diantara ummatku ) yang akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, lalau sehasta demi sehasta . Kami ( para sahabat ) berkata : “ wahai Rasulullah, kebiasaan orang sebelum kami maksudnya siapa?, Yahudi dan Nasrani kah?, rasul bersbada : “ siapa lagi kalau bukan mereka ? “ ( Shahih Al Bukhari )

Kondisi seperti ini akan terus terjadi jika tidak adanya pelindung (tameng) bagi umat muslim itu sendiri. Umat muslim sekarang ini bagaikan anak ayam tanpa induknya. Umat muslim kehilangan arah. Umat muslim sekarang tidak bisa bertindak apa-apa, karena tidak adanya seorang sosok pemimpin yang menjadi penggerak, sekaligus umat muslim. Adanya pemimpin yang ikhlas menjadi pelindung umat muslim hanya dengan adanya insititusi Islam yang akan menerapkan sistem Islam, sehingga siapa saja yang masuk ke dalam sistem yang baik ini akan ikut menjadi baik. Mari kita sama-sama mengusahakan adanya sebuah sistem Islam yang berada di naungan institusi Islam yaitu Khilafah Islamiyah yang telah dijanjikan Allah dan Rosul.
Wallohua;lam bishshawab.

*Disampaikan di FGD LDK DKM Unpad tanggal 9 oktober 2013

Semarak Shalat Idul Adha 1434H di Kampus Jatinangor

Jamaah Mendengarkan Khutbah Idul Adha 1434 H dengan Seksama

Jamaah Mendengarkan Khutbah Idul Adha 1434 H dengan Seksama

Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar. Takbir telah membahana. Kali ini DKM Universitas Padjadjaran khususnya sektor Masjid Raya Ibnu Sina mengadakan Sholat Idul Adha 1434H. Kegiatan Sholat ini berlangsung pada 15 Oktober 2013. Diiringi alunan takbir, ratusan jamaah berbondong-bondong datang untuk pelaksanaan Sholat Idul Adha. Pukul 06.25 WIB Rangkaian acara Sholat Idul Adha dimulai. Bertindak selaku imam dan Khotib adalah Dr. H. A.A. Handaka Suryana, MT (Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad yang juga aktif sebagai Sekretaris Umum DKM UNPAD). Continue reading

Jejak Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Era Peradaban Islam

JEJAK ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DI ERA PERADABAN ISLAM : SEBUAH REFERENSI PENGANTAR

ibnu-haitam

(Oleh : Heraldo Yanindra P. |Jurusan Fisika Unpad 2012)

Pengurus Aktif LDK DKM Unpad

Kontribusi kaum Muslim dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah dimulai sejak abad-abad lamanya. Para intelektual muslim di zaman dahulu telah menciptakan suatu konsep-konsep ilmu pengetahuan secara aspek fisik (kualitatif) dan aspek matematis (kuantitatif) dari suatu ilmu pengetahuan. Mereka melakukan penelitian terhadap aspek kualitatif maupun kuantitatif dari berbagai problem ilmiah. Bidang-bidang keilmuan yang ditekuninya pun beragam, mulai dari fisika, kimia, matematika, astronomi, kedokteran, geografi, dan sebagainya.

Sebelum kedatangan Islam, bangsa Arab hanya menguasai pengetahuan yang minim dalam bidang sejarah dan geografi. Pengetahuan sejarah yang dimiliki hanya terbatas pada informasi tentang suku-suku lokal serta wilayahnya masing-masing. Islam sebagai ideologi mendorong manusia untuk berpikir dan memperoleh pendidikan. Kaum muslim diwajibkan untuk berinteraksi dengan umat lain dalam rangka menyampaikan dakwah kepada mereka. Dalam upayanya melaksanakan tugas ini, kaum Muslim diperintahkan untuk membangun kekuatan material. Khalifah bertanggung jawab untuk menggunakan segala cara yang sesuai hukum syara’ untuk memelihara urusan umat. Ini semua merupakan faktor yang mendorong kaum Muslim untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sejarah ilmuwan Islam menyisakan cerita perjalanan panjang para ilmuwan muslim dalam berbagai bidang keilmuan. Penelitian serta berbagai penemuan menjadi hal yang biasa dalam menghiasi perjalanan cerita sejarah ilmuwan Islam. Ilmu menjadi “santapan” mereka setiap harinya.

Sejak turun wahyu pertama pada tahun 610 masehi, Islam menunjukkan keberpihakannya pada ilmu pengetahuan. Wahyu tersebut terdapat pada surat Al-Alaq ayat 1, “Iqra bismirabbikalladzi khalaq.” Ayat ini mendorong pada umat Islam untuk mendalami ilmu. Maka, berabad-abad setelahnya, dunia mencatat jejak-jejak sejarah ilmuwan Islam yang tak terhitung banyaknya.

Jejak ilmu pengetahuan memang tidak secara nyata mewarnai masa permulaan Islam, mengingat budaya bangsa Arab masa itu begitu jauh dari ilmu. Bahkan, tenggelam pada kegelapan jahiliyah. Namun, Islam secara perlahan menyalakan kegairahan terhadap ilmu, merangsang elemen terpenting dari manusia, yakni pikiran. Dasar itulah yang banyak ikut menciptakan sejarah perjalanan kiprah para ilmuwan Islam. Sejarah ilmuwan Islam meninggalkan jejak yang hingga kini masih bisa dideteksi oleh para sejarawan. Jejak-jejak tersebut sangat terasa dalam beberapa bidang keilmuan. Hasil pemikiran para ilmuwan Islam pada zaman dahulu nyatanya masih tetap abadi hingga kini. Hal abadi yang sulit untuk lekang oleh waktu memang ilmu pengetahuan. Ibaratnya, keilmuan adalah suatu warisan peradaban yang tidak bisa dinilai dengan angka.

Sejarah Para Ilmuwan Islam.

Para ilmuwan Islam sudah mengenal aspek fisik (kualitatif) dan aspek matematis (kuantitatif) dari suatu ilmu pengetahuan. Mereka melakukan penelitian terhadap kedua aspek tersebut yang ditinjau dari sisi ilmiah. Sebagai contoh, kiprah Ibnu Khurdadhbih menghitung derajat lintang dan bujur berbagai tempat di dunia Islam, serta Al-Biruni yang menghitung kemolaran (konsentrasi) sejumlah zat kimia.

Eksperimen-eksperimen ilmiah dalam bidang kimia, fisika, dan farmasi dilakukan di laboratorium; sedangkan penelitian dalam bidang patologi dan pembedahan dilakukan di rumah sakit-rumah sakit. Sejumlah observatorium juga dibangun di beberapa lokasi di dunia Islam, seperti di Damaskus, Baghdad, dan Naisabur, untuk melakukan pengamatan astronomi.

Persiapan bedah mayat juga dilakukan dalam rangka praktik pengajaran anatomi. Khalifah al-Mu’tashim pernah mengirimkan kera untuk dijadikan peraga dalam kegiatan ini. Demonstrasi operasi pembedahan bagi para mahasiswa diberikan di rumah sakit-rumah sakit.

Pada abad 11 dan 12 M, tingkat pemahaman aksara di kalangan kaum Muslimin mencapai level tertinggi. Tingginya semangat keilmuan pada masa itu diindikasikan dengan karya optik Shihab al-Din al-Qirafi, seorang ulama fiqih dan juga hakim di Kairo (wafat pada tahun 1285) yang menangani 50 macam masalah penglihatan.

Dalam naungan hukum Islam, para ilmuwan tidak hanya memberikan kontribusi demi kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengaplikasikan penemuan ilmiahnya dalam bentuk inovasi teknologi. Sebagai contoh, di dalam bidang astronomi, mereka mengamati bintang-bintang, kemudian menyusun peta bintang untuk keperluan navigasi, dan hingga saat ini konsep tersebut masih digunakan sebagai Tata Koordinat Benda Langit (Saat ini sudah dikenal 3 macam Tata Koordinat Benda Langit yaitu tata ekliptik, tata equator, dan tata galaktik). Kemudian dalam bidang fisika, Ibnu Yunus memanfaatkan pendulum untuk menentukan ukuran waktu. Ibnu Sina menggunakan termometer udara untuk mengukur temperatur udara. Kertas, kompas, bubuk mesiu, asam anorganik, dan alkali, merupakan sebagian bukti penting perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan ilmuwan Muslim yang menghasilkan revolusi peradaban manusia yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Para ilmuwan Muslim menjadikan aljabar sebagai cabang dari matematika. Istilah ‘aljabar’ berasal dari bahasa Arab yaitu ‘Jabr’. Para cendekiawan Muslim juga mengembangkan trigonometri bidang datar dan sferis, serta mengaplikasikannya dalam ilmu astronomi (Saat ini pengaplikasian trigonometri dalam bidang astronomi digunakan dalam konsep metode paralaks bintang). Mereka juga memisahkan astrologi dan astronomi, karena astrologi yang berkeyakinan bahwa posisi bintang dapat menentukan nasib hidup manusia, merupakan bid’ah dalam Islam. Maka astronomi berkembang menjadi ilmu murni setelah dibersihkan dari kepercayaan-kepercayaan yang bersifat takhayul.

Berbagai kata atau istilah Arab yang banyak digunakan dalam bahasa Eropa menjadi monumen hidup kontribusi kaum Muslim pada sains modern. Disamping itu, sejumlah besar buku di berbagai perpustakaan di Asia dan Eropa, museum-museum di berbagai negeri, serta masjid dan istana yang dibangun berabad-abad silam juga merupakan bukti adanya fenomena penting ini dalam sejarah dunia.

Dalam proses penerjemahan, banyak nama ilmuwan Muslim yang mengalami perubahan, sehingga membuat para pembaca mengira mereka adalah orang-orang non-Muslim dari Eropa. Beberapa nama di antaranya adalah Abul Qasim al-Zahrawi (Albucasis), Muhammad ibnu Jabir ibnu Sinan al-Battani (Albetinius), dan Abu ‘Ali ibnu Sina (Avicenna).

Khatimah

Kaum Muslim memahami bahwa pengetahuan yang bersifat rasional dan alamiah terbuka bagi siapa saja yang ingin mempelajari. Dalam wilayah ilmu murni, kita boleh menggunakan akal kita; atau mengambil pendapat-pendapat yang bersifat teknis dan ilmiah dari pemikiran orang lain. Sebagai contoh, bila seseorang hendak merancang mesin, ia boleh merujuk pada rancangan mesin yang sudah ada tanpa perlu memperitmbangkan lagi siapa yang membuatnya, Muslim atau Non-Muslim. Ilmu-ilmu murni tidak melibatkan sudut pandang seseorang tentang kehidupan, baik kapitalisme, budhisme, atau Islam. Ilmu murni memberikan pemahaman yang sama bagi semua orang.

Dengan demikian, jelas bahwa kaum Muslim terdahulu telah meraih perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi pada masa itu serta menjadi pelopr ilmu pengetahuan di berbagai bidang baru. Semangat penelitian di kalangan ilmuwan Muslim serta metode ilmiah yang mereka rumuskan telah menghasilkan revolusi ilmu pengetahuan modern.