Menggagas APBN Syariah

kajian APBN syari'ahDewan Keluarga Masjid Universitas Padjadjaran kembali mengadakan kajian Fiqih kontemporer dengan  tema “Menggagas APBN Syariah”. Kajian yang dilaksanakan hari rabu tanggal 27 november ini,  dilaksanakan di Masjid Raya Ibnu Sina Unpad Jatinangor.     Hadir sebagai pemateri, Ustadz Hakim Abdurrahman,S.Si. Meskipun hujan, para peserta tetap bersemangat untuk mengikuti jalannya acara ini.

“Di negara-negara kapitalis sumber penerimaan terbesar negara berasal dari pajak. Ini sangat ironis, lihatlah bagaimana negara indonesia dengan melimpahnya SDA yang allah karuniakan,  namun miskin rakyatnya, justru penerimaan terbesar negara berasal dari pajak” ujar pemateri.

 Kesalahannya terletak pada paradigma ekonomi kapitalis tentang kepemilikan. Sistem Ekonomi Kapitalis berprinsip apapun bisa dimiliki oleh individu atau swasta dan negara tidak boleh campur tangan dalam perekonomian. Dampaknya terhadap APBN: Pertama, kekayaan alam dikuasai oleh swasta, sementara untuk melaksanakan tugas negara, negara memungut pajak dari rakyat. Kedua, karena negara tidak boleh campur tangan dalam perekonomian maka subsidi tidak boleh ada dalam APBN, walaupun dalam kenyataannya mereka sendiri banyak menyalahi prinsip dasar itu, misalnya kasus bailout yang dikucurkan untuk menyelamatkan lembaga keuangan yang terjadi di Amerika Serikat.

Ini sangat berbda dengan paradigma negara khilafah. Paradigma APBN berhubungan dengan Politik Ekonomi. Dalam Politik Ekonomi Islam, negara wajib memberikan jaminan atas pemenuhan seluruh kebutuhan pokok bagi tiap individu dan masyarakat serta menjamin kemungkinan pemenuhan berbagai kebutuhan sekunder dan tersier sesuai kadar kemampuan individu bersangkutan. Oleh karena itu, fokus APBN Syariah adalah untuk menjamin pemenuhan kebutuhan primer tiap warga negara maupun kebutuhan pokok masyarakat, yaitu pendidikan, kesehatan dan keamanan serta memberikan jaminan peluang pemenuhan kebutuhan sekunder bahkan tersier sesuai kemampuan masing-masing.

Maka,tentu kondisi ideal yang kita harapkan adalah dengan segera mungkin menerapkan APBN syariah dalam bingkai daulah Khilafah. Sejarah telah membuktikan bagaimana Negara Khilafah yang masyarakatnya makmur dan sejahtera dan lebih dari itu mereka mendapat keberkahan yang Allah berikan melalui langit dan bumi. Semua rakyat bisa mendapat akses ke pendidikan, kesehatan, dan semua bentuk pelayanan publik yang berkualitas denga biaya yang murah bahkan gratis. Jaminan keamanan diberikan, sehingga rasa aman akan dinikmati oleh seluruh rakyat. Rakyat pun tidak akan terlalu dipusingkan untuk mencari nafkah dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok mereka. Dengan begitu, mereka bisa mencurahkan waktu mereka untuk beribadah, berpikir termasuk untuk melakukan inovasi dan mengembangkan peradaban. Masyarakat akan maju secara teknologi, berakhlak mulia dan berperadaban adi luhung akan sangat mungkin terwujud. Kebaikan itu akan bisa dirasakan oleh seluruh rakyat baik Muslim maupun non-Muslim, bahkan akan bisa dirasakan oleh seluruh dunia. Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin pun benar-benar nyata. [RA]

Download materi kajian  :Mengenal APBN Syariah

Kajian Tafsir surat ali imran ayat 133

1464789_554203307995046_105956319_n

Selasa (26/11/2013), udara terasa agak dingin menyelimuti kawasan jatinangor akibat hujan yang turun sebelumnya. Tapi keadaan tersebut tidak menyurutkan ghiroh para aktifis DKM Unpad untuk mengkaji tafsir tematis Al quran bersama Ust. Nurhilal Ahmad (dosen Fisika Unpad) selepas salat magrib berjamaah di masjid raya Ibnu Sina. Pada kajian tersebut, Ust Nurhilal membahas tafsir surat Ali Imran ayat 133, yaitu tentang bersegera melaksanakan syariah.

وَ سَارِعُوا إِلَي مَغْفِرَةٍ مِن رَبِّكُم وَ جَنَّةٍ عَرضُهَا السَمَاوَاتِ وَالأَرضِ أُعِدّتْ لِللمُتَّقِينَ

‘ dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Robb-mu dan kepada surga yang lebarnya selebar langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa kepada-Nya

(QS. 3 : 133)

Sudah jelas dalam Al quran, bahwa janji Allah bagi orang yang beriman kepada-Nya dan melakukan perbuatan baik adalah tempat kembali yang bahagia (surga). Tapi, apakah hanya dengan beriman yang ala kadarnya bisa memantaskan kita untuk memasuki surga-Nya?

Perbuatan seorang muslim pun hitungannya adalah halal-haram, yaitu mengerjakan suatu kegiatan yang dibolehkan/diperintahkan oleh Allah dan rosul-Nya dan menjauhi apa-apa yang dibenci dan dilarang-Nya. Perbuatan seorang muslim tidak bisa dihitung berdasarkan untung ruginya perbuatan tersebut. Karna belum tentu setiap yang menguntungkan itu halal.

Ust. Nurhilal pun menegaskan bahwa, seorang muslim itu selalu melakukan amalan wajib dan memperbanyak amalan-amalan sunnah, serta berpindah dari kegiatan-kegiatan mubah menjadi sunnah. Misalnya rentang antara maghrib dan isya adalah waktu yang bisa diisi dengan berbagai macam kegiatan, tetapi alangkah baiknya jika waktu tersebut diisi dengan kegiatan sunnah seperti mengaji, belajar, muhasabah, dan lebih baik lagi berdakwah.

Dengan begitu, seorang muslim akan merasakan nikmatnya Iman dan beramal soleh, karna ia telah terbiasa dengan hal-hal yang disukai oleh Allah dan rosul-Nya maka Allah pun menjadikan ia menyukai hal-hal tersebut.

Allah swt menjelaskan bahwa, surga yang Dia janjikan itu adalah suatu tempat indah yang lebarnya (عرضها)  selebar langit dan bumi. Kita mengetahui bahwa lebar itu tak pernah lebih besar dari panjang (طول) oleh karena itu, seberapa panjang surga yang dijanjikan Allah bagi mereka yang beriman kepadanya dan beramal soleh? Sampai saat ini-pun para ilmuwan belum menemukan ‘ujung’ langit, lalu dilain konteks Allah menyebut bahwa surga yang Dia janjikan selebar langit dan bumi, SUBHAANALLAH… [DBS]

Kajian Fiqih LDK DKM Unpad : Menggagas APBN syari’ah

APBN

Rapat Paripurna DPR RI menyetujui Rancangan Undang-Undang APBN 2014 untuk disahkan menjadi undang-undang.

“Seluruh fraksi menyetujui RUU APBN tahun anggaran 2014,” ujar Wakil Ketua DPR RI Sohibul Iman saat memimpin Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta, Jumat.
(sumber: ANTARA News)

Akankah APBN 2014 ini membawa kemajuan bidang ekonomi Indonesia? Atau semakin terpuruk? Bagaimana dengan APBN Syariah? Untuk menjawab semuanya mari ikuti Kajian Fiqih LDK Dkm Unpad, Rabu, 27 November 2013 pukul 16.00 WIB @ Masjid Ibnu Sina, Kampus Unpad Jatinangor.

Tema: Menggagas APBN Syari’ah

Menghadirkan pembicara , Ust. Hakim Abdurrahman, S.Si.

Be there..
—————————————————————————————————
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (TQS al-A’raf [7]: 96)

Tafsir surat Al-hujurat : 12 (hukum tajasus)

penyadapan

Selasa (19/11/13) di masjid Raya ibnu sina, selepas melaksanakan shalat magrib berjama’ah, para aktifis DKM unpad dan jama’ah masjid raya ibnu sina berkumpul bersama untuk mengikuti kajian Tafsir tematis, bersama ust Nurhilal ahmad (dosen fisika unpad). Pada kajian tersebut, ust nurhilal membahas tafsir surat al-hujurat ayat 12, yaitu hukum tajasus (memata-matai).

Seperti yang kita ketahui, bahwa dalam beberapa hari terakhir ini, telah terjadi penyadapan terhadap pemerintah Indonesia. Karena itu, dkm unpad membahas tema ini. Bagaimana sebenarnya hukum penyadapan itu? Bagaimana pandangan islam mengenai penyadapan?.

Pembicara menegaskan bahwa perbuatan memata-matai, mencari-cari kesalahan orang lain merupakan salah satu perbuatan yang diharamkan secara syar’i. karena telah jelas, seperti yang terdapat dalam surat al-hujurat disebutkan bahwa kita harus menjauhi kebanyakan prasangka (yaitu suudzhon), karena kebanyakan dari prasangka itu dosa.

Ustadz nurhilal pun menjelaskan bahwa seharusnya seorang muslim itu berprasangka baik terhadap saudaranya, dan jangan suka mencari-cari kesalahan orang. “orang soleh biasanya suka ditunggu-tunggu saat-saat dia berbuat salah, pas dia melakukan satu kesalahan, kemudian kesalahan itu dikambinghitamkan dan dibesar-besarkan, sehingga menjadi aib. Itu tidak boleh” tegas ustadz nurhilal. “Ketika seseorang melakukan sebuah kesalahan, justru kita diwajibkan menutup aib orang tersebut, karena ketika seseorang menutupi aib orang lain di dunia, maka allah akan menutup aibnya di akhirat” lanjut ustadz nurhilal.

Namun ada beberapa syarat, aib seseorang itu wajib ditutupi. Karena  justru dalam keadaaan lain aib orang itu harus diungkapkan kepada masyarakat, supaya tidak menimbulkan dharar. Adapun beberapa syarat wajib menutupi aib orang lain yaitu :

–          Perbuatan tersebut baru pertama kali dilakukan

–          Orang yang melakukannya merupakan orang yang dikenal baik

–          Perbuatan itu tidak menimbulkan bahaya

Pada keadaan lain, justru aib itu tidak boleh ditutup-tutupi dan harus diungkapkan. “Contohnya, jika ada penipu ulung yang kerjanya nipu, maka hal seperti ini harus diungkapkan kepada masyarakat supaya tidak ada yang menjadi korban”.

Terkait dengan kasus penyadapan yang dilakukan oleh sebuah Negara kepada Negara yang lain, pembicara memberikan penjelasan, bahwa Negara tidak boleh melakukan spionase kepada siapapun, baik dari sebuah Negara kepada Negara lain, ataupun dari Negara kepada rakyatnya. Karena telah jelas bahwa hukum Tajasus adalah haram.

Dalam islam, Negara boleh melakukan aktifitas spionase hanya sebatas untuk melihat sejauh mana kekuatan militer dan ketahanan suatu Negara. Dalam arti, kebolehannya itu hanyalah sebatas untuk kebutuhan perang (dengan melihat kekuatan musuh). Adapun aktifitas memata-matai aktifitas kepala Negara dari Negara musuh, dan para pejabatnya, jelas tidak boleh.

Pembicara pun menegaskan, “bahkan kepada kafir dzimmi (non-muslim yang tinggal di Negara islam) pun, tidak boleh dimata-matai”.

orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain (memata-matai), menurut surat al-hujurat ayat 12 ini, seperti memakan daging bangkai saudaranya sendiri”. [TS]

Ketika Wudhu , Kenapa Harus Menghirup Air ?

Wudlu

Wudlu

Pintu masuk kotoran ke dalam tubuh, salah satunya adalah melalui lubang hidung. Berbagai kotoran dan debu yang beterbangan dan tak terlihat oleh mata, dapat terhirup masuk ke dalam hidung. Apalagi dengan polusi udara yang disebabkan oleh asap kendaraan bermotor. Hal itu dapat menyebabkan kesehatan terganggu. Karena itu, sebaiknya kita senantiasa menjaga kebersihan hidung dengan cara membersihkannya menggunakan air, yaitu memasukkannya (menghirup) ke dalam hidung kemudian dikeluarkan kembali. Continue reading