Jebakan Harta

odinar_dirham-imn_2010leh : Ustadz Lutfi Affandi. SH, MH – Alumni Masjid UNPAD

Menjadi kaya, melimpahnya harta benda, adalah impian banyak orang. Mereka beranggapan bahwa uang bisa membeli segalanya. Membeli rumah, kendaraan, makanan enak, dan yang tak kalah penting katanya, orang kaya akan dihormati banyak orang. Maka tak heran, banyak cara ditempuh agar bisa mendapatkan harta berlimpah. Mulai dari cara yang halal dengan mengejar karir setinggi-tingginya dan menjadi pengusaha sukses, hingga dengan cara-cara yang haram, seperti korupsi, mencurangi takaran dan timbangan, hingga muamalah ribawi (bunga). Tujuannya, apalagi kalau bukan berharap uang dan harta berlimpah?

Memiliki banyak harta tentu tak salah, jika harta yang didapat manfaat untuk banyak pihak atau untuk dinafkahkan di jalan Allah. Sebagian sahabat Rosulullah seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf adalah orang yang berlimpah harta, akan tetapi bagi mereka harta adalah titipan dan pemberian dari Allah. Maka ketika Allah swt dan Rosul-Nya memerintahkan untuk mengeluarkan hartanya, tak sedikitpun ada keraguan dan rasa berat hati. Utsman bin Affan pernah menyedekahkan 1000 dinar (setara dengan 4250 gram emas) melalui Rosulullah. Abdurrahman bin ‘Auf pernah menyedekahkan 700 ekor unta penuh dengan barang dagangannya, lantaran tak ingin masuk syurga dengan cara merangkak.

Saat ini kita lihat, banyak orang yang menganggap bahwa harta adalah segalanya dan mampu ‘membeli’ semuanya. Ya, memang uang bisa membeli rumah megah. Tapi, mampukah uang membeli kebahagiaan orang-orang di dalamnya? Uang memang bisa membeli kendaraan mewah. Tapi, mampukah uang membeli ketenangan hidup? Uang memang bisa membeli kasur empuk, tapi mampukah uang membeli mimpi? Jawabnya tentu tidak! Ya, itulah jebakan uang yang terkadang menipu dan menyesatkan. Bahkan terkadang, memiliki harta berlimpah juga seringkali membuat lalai dan jauh dari Allah. Berapa banyak orang yang ketika ‘miskin’ begitu rajin datang ke masjid, tetapi ketika sudah kaya raya, sholat berjamaah saja jarang. Berapa banyak orang yang ketika hidup susah sering sholat tahajjud, tapi ketika sudah kaya, sholat shubuh pun seringkali tertinggal. Inilah jebakan harta yang paling berbahaya.

Allah swt melarang bahkan mengecam dengan keras orang-orang yang menumpuk-numpuk harta dan memperkaya diri sendiri tanpa mau peduli terhadap urusan orang lain, apalagi sampai membuatnya jauh dari Allah. Kelak ketika ajal menjelang, mereka baru tersadar, bahwa gunungan harta tak pernah bisa menolongnya. Wallahu A’lam.

6 Persoalan Hidup Menurut Imam Al-Ghazali

Oleh : Yurizalihyaulumaldeennew

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu ia bertanya kepada mereka, “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi menurut Imam Ghozali yang paling dekat dengan manusia adalah “mati”. Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Lihat QS. Ali Imran ayat 185)

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”. Murid -muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah “masa lalu”. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. “Apa yang paling besar di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “nafsu” (Al A’Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan keempat adalah, “Apa yang paling berat di dunia ini?”. Ada yang menjawab dengan jawaban, baja, besi, dan gajah. “Semua jawaban hampir benar,” kata Imam Ghozali, “tapi yang paling berat adalah “memegang AMANAH” sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat 72.

Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, “Apa yang paling ringan di dunia ini?”. Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan sholat. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan solat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat.

Lantas pertanyaan ke enam adalah, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?”. Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang… Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah “lidah manusia”. Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

yurizal@tm.net.my

http://www.eramuslim.com/hikmah/tafakur/6-persoalan-hidup-menurut-al-ghazali.htm#.U43jg_l_s2Y