Memandang positif sebuah kesulitan

Oleh : Taufiq Sutyarahman (Ketua Departemen Pembinaan LDK DKM Unpad)

panjat-tebing

Kesulitan kerap dipandang dari satu sisi saja, yaitu sisi negatif. Amat jarang sekali orang yang memandang kesulitan sebagai sesuatu yang menyenangkan dan sesuatu yang akan membuat dirinya menjadi lebih baik dan bahagia. Yang sering dibayangkan dari kesulitan adalah sisi-sisi buruk saja. Wajar saja jika kita kemudian cenderung kesal jika kesulitan tiap kali muncul.

Jika kita perhatikan, sebenarnya kesulitan itu ada manfaatnya. Wah benarkah begitu?

Tentu jika kita berfikir positif dan melihat manfaat dari kesulitan itu. Maka setiap kesulitan datang kita akan merasa senang dan akan merasa tertantang akan setiap kesulitan itu.

Banyak orang yang enggan bahkan kesal jika bertemu dengan kesulitan. Mereka yang demikian itu adalah bukan karena menolak manfaat kesulitan, melainkan karena mereka tidak tahu apa manfaat dari kesulitan. Dimatanya yang tergambar dari kesulitan itu adalah kesialan dan beban yang sangat berat. Yang mana akan mengganggu kehidupannya.

Coba kita teliti lagi, apa saja sih manfaat dari kesulitan itu?

Oh ditinjau dari beberapa sudut ternyata kesulitan itu banyak sekali manfaatnya. Apa itu?

1. Menambah ilmu

Setiap kesulitan yang datang ternyata akan mendatangkan ilmu. Bertambahnya ilmu manusia bukan karena besarnya volume otak. Meskipun volume otak kita gede. Tapi itu belum tentu banyak isinya.

Nah, setiap kesulitan datang akan mendatangkan suatu ilmu dan menambah pengalaman.

2. Membuat diri semakin kuat

Orang yang sehari-harinya sering bergelut dengan dunia kesulitan akan menjadi orang yang super kuat. Tahan banting menghadapi berbagai permasalahan. Dan banyak orang yang ditimpa kesulitan akan menjadi orang yang paling kreatif. Berbeda halnya dengan orang yang tak pernah ditimpa kesulitan, pemalas dan suka bersantai ria, ia akan menjadi orang yang bila ditimpa kesulitan sedikit saja akan mudah kalah.

Beda antara orang yang sering ditimpa kesulitan dengan orang yang santai saja dan malas. Adalah seperti ayam sayur dengan ayam kampung.

Ayam sayur selama hidupnya hanya melakukan empat kegiatan penting yaitu : makan, diam, buang kotoran dan disembelih.

Sedangkan  ayam kampung, sepanjang hayatnya tidak pernah henti-hentinya mencari makan, menggunakan seluruh tenaganya demi sesuap nasi…hehee

Kita bisa lihat hasilnya, ayam sayur cenderung gemuk namun gembur dagingnya. Berbeda dengan ayam kampung, bentuk tubuhnya ramping namun liat dagingnya. Hingga kini harga daging ayam kampung untuk berat yang sama tetap lebih mahal daripada ayam sayur. Kata orang, proses akan menentukan nilai akhir.

Menurut survey mengatakan bahwa pola hidup yang serba mapan, sering mengundang penyakit-penyakit yang serius, seperti diabetes, kanker, darah tinggi, stroke dan lain-lain.

Penyakit-penyakit tersebut jarang kita temui pada orang-orang yang sehari-harinya bekerja sangat keras, dan senantiasa bergerak, seperti para petani, kuli , pedagang, sopir dan yang lainnya.

3. kesulitan sebagai tangga prestasi.

Setiap kesulitan yang datang akan memunculkan prestasi yang sungguh sangat menakjubkan. Kita sering melihat banyak para pemuda yang diusia mudanya telah menjadi professor yang pendapat-pendapatnya disegani, pakar pendidikan yang sukses, pelopor bisnis internasional, dan masih banyak lagi.

Pastinya mereka adalah orang-orang yang dalam kesehariannya bertarung dengan yang namanya kesulitan, karena hal-hal tersebut bukan perkara yang mudah. Tapi hal tersebut dilalui oleh proses yang menyakitkan.

Kalau hanya menghabiskan makanan dipiring, semua orang tentu pasti bisa melakukannya. Dan bukan merupakan sebuah prestasi yang patut dibanggakan.

4. Pahala Ibadah

Aneka kesulitan bisa menjadi sarana bagi Allah untuk memberi balasan pahala kepada hamba-hambanya. Hidup yang kita lakukan menjadi tidak sia-sia. Yang mana jika kita berbuat baik niscaya Allah akan membalas amal kita. Kalaupun kita tertimpa keburukan, hal itu akan menggugurkan dosa.

Jika demikian datangnya kesulitan bisa membuat kita menjadi orang yang senantiasa beramal shaleh. Semua itu akan Allah balas dengan limpahan kebaikan dari sisi-Nya.

“(yaitu) orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan :’innalillahi wainna ilaihi raji’un (sesungguhnya diri kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali)’. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bermacam kesejahteraan dan kasih sayang dari sisi Rabb (Tuhan) mereka. Dan merekalah orang-orang yang senantiasa mendapat petunjuk” [TQS Al-Baqarah : 156-157]

orang-orang yang tertimpa kesulitan akan berucap “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”,  tentu hal tersebut bukan hanya sekedar ucapan lisan belaka, tapi merupakan kesabaran yang paling tinggi. Dan ridha terhadap taqdir Allah. Dan yakin sebagai pembuka segala kesulitan.

Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa Rasulullah Saw, bersabda:

Allah Swt berfirman,  “tiada pembalasan bagi hamba-ku yang mukmin disisi-ku ketika aku ambil kekasihnya dari penghuni dunia ini kemudian dia mengharap pahala (dari-ku), melainkan surga” (H.R Bukhari)

Kekasih yang dicintai dikehidupan dunia ini banyak jenisnya seperti yang disebutkan dalam Al-Quran:

Dihiaskan pada (pandangan) manusia kecintaan pada aneka macam kesenangan dari hal wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, hewan-hewan ternak. Dan sawah ladang. Itulah perhiasan hidup di dunia. Dan disisi Allah ada tempat kembali yang baik.” [QS Ali Imran : 14]

Karena itu, jelas sekali bahwa kesulitan itu sangat besar manfaatnya. Seperti pepatah obat yang sering kita dengar. “pahit rasanya namun didalamnya ada peluang mendapatkan kesembuhan”. Insya Allah.

 

Sumber :

10 sikap positif (AA. QOWIY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *