Tabligh Akbar “Menyongsong Sebuah Perubahan Untuk Kebangkitan Hakiki”

IMG_5185 Dewan Keluarga Masjid Universitas Padjadjaran (DKM Unpad) kembali mengadakan acara Tabligh Akbar yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan PARAMADIKA (Panitia Ramadhan Dan Idul Fitri Di Kampus ) 1434 H. Tabligh Akbar yang diadakan pada hari Rabu 24 Juli 2013 bertepatan dengan 15 Ramadhan di Masjid Al Jihad Dipati Ukur ini mengangkat tema besar Menyongsong Sebuah Perubahan Untuk Kebangkitan Hakiki. Continue reading

Pesantren Liburan Mahasiswa

IMG_3598 PLM atau Pesantren Liburan Mahasiswa adalah salah satu program rutinan yang diselenggarakan oleh Dewan Keluarga Masjid Universitas Padjadjaran setiap tahunnya. Pada tahun 2013 ini usia PLM sudah 25 tahun, itu artinya PLM sudah diselenggarakan 25 kali. Dan setiap kali PLM senantiasa melahirkan generasi-genarasi intelektual. Berari di tahun 2013 ini akan ada generasi yang ke-25 yang dilahirkan oleh PLM.

25 tahun silam Pesantren Liburan Mahasiswa yang pertama diselenggarakan di pesantren Persis Ciganitri Buah Batu Bandung. Waktu itu salah satu pesertanya adalah Nurhilah Ahmad yang saat ini sebagai dosen di Fakultas Matematika dan IPA Unpad sekaligus beliau adalah salah satu pembina dari DKM Unpad.

IMG_3678

 

IMG_3721

Zaman pun terus berubah dengan dinamika yang sangat pesat, begitupun dengan PLM mengalami berbagai dinamika. Pada tahun 2013 ini PLM diselenggarakan di Lembaga Administrasi Negara Jatinangor Sumedang. Menghadirkan pembicara-pembicara yang luar bisa ditambah suasana Ramadhan yang sangat mendukung jalannya acara.

Peserta yang hadir di PLM ini tidak hanya dari Unpad, tetapi ada dari UPI Bandung, ITB, UPI Purwakarta, SMK4 Karawang, Unjani, Manajemen Informatika BSI Bandung, SMA 1 Cilengsi Bogor, SMAN Purwakrta bahkan dari luar pulau jawa pun hadir, yaitu dari kampus Udayana Bali.

IMG_3789

Kita berharap semoga barisan yang ke-25 ini bisa menjadi barisan intelektual yang bisa berkontribusi untuk Agama dan Negeri ini. Tentu dengan nafas Islam.

IMG_3790

Dosa “Investasi”

Penceramah pada hari ke 10 bulan ramadhan 1434 H seharusnya adalah Ketua Umum DKM Unpad Ust. Budi Harsanto, SE, MM. Namun karena ada hal yang tidak bisa ditinggalkan beliau imam dan penceramah digantikan oleh wakil sekretaris umu Ust. Asep Abdul Rahman mahasiswa dari FTIP.

Dalam khutbahnya beliau menyampaikan beberapa poin penting. Mengawali ceramahnya beliau menyampaikan sebuah hadits, hadits tersebut berisi ada 3 orang/golongan yang rugi. 1) Orang/golongan yang tidak mengucapkan shalawat atas nabi ketika mendengar asma Rasul

2) Orang yang berkesempatan hidup bersama kedua orang tuanya tetapi tidak dimasukan ke surga

3) Orang yang berkesempatan hidup pada bulan ramadhan tetapi tidak mendapat ampunan atas dosa-dosanya

 

Kemudian beliau juga menyampaikan bahwa ada kalangan/ulama yang menggolongkan dosa kedalam 3 jenis dosa:

  1. Dosa karena kesalahan yang dikerjakan oleh dirinya,
  2. Dosa karena kesalahan kepada orang lain,
  3. Dosa karena kesalahan yg dikerjakan oleh orang lain.

Contoh dosa jenis yang pertama adalah ketika kita meninggalakan sholat, meninggalkan zakat dsb papar beliau.

Jenis dosa yang kedua beliau jelaskan dengan sebuah hadits:

“Bahwasanya Rasulullah SAW pernah bertanya [pada para sahabat] : ‘Tahukah kamu siapa orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang sudah tidak punya kekayaan lagi. Maka Rasul menjelaskan : ‘Orang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah orang yang datang di hari kiamat dengan membawa (amalan) sholat, puasa, zakat. Tetapi, dia pernah mencaci seseorang , menuduh seseorang, memakan harta seseorang , menumpahkan darah seseorang, memukul seseorang. Maka akan diambilkan dari [amalan] kebajikannya dan diambilkan darinya amalan kebajikannya. Maka apabila telah habis [amalan] kebajikannya, padahal belum selesai urusannya, maka akan diambilkan [amalan] kesalahan-kesalahan atau dosa-dosa mereka, kemudian diberikan kepadanya. Kemudian orang itu dilemparkan ke dalam neraka {Hr. Muslim}

Sedangkan jenis dosa yang ke-3 beliau menjelaskan, bahwa jenis dosa itu adalah dosa investasi, karena memang seiring bertambahnya waktu dosa nya semakin bertambah. Papar beliau.

Dosa investasi adalah dosa yang bersal dari fardu kifayah yang tidak diamalkan, padahal fardu kifayah adalh 90% dari syariat islam, tegas beliau.

Contoh yang beliau paparkan sangat jelas. Bagaimana misalnya jenazah yang tidak diurus, maka yang berdosa adalah seluruh kaum muslim. Contoh yang lain beliau jelaskan

  • Jika ada orang yang berzina siap yang berdosa? Seluruh umat islam berdosa, kenapa? Alasannya ada di QS. An Nuur: 2
  • Jika ada orang yang membunuh, siapa yang berdosa? Seluruh kaum muslim berdosa, kenapa? Alasannya ada di QS. Al Baqarah: 178
  • Jika ada orang yang mencuri, siap yang berdosa? Seluruh kaum muslim berdosa, kenapa? Alasannya ada di QS. Al Maidah: 38
  • Jika Umat Islam tidak diatur dengan Hukum Islam siapa yang berdosa? Seluruh kaum muslim berdosa, kenapa? Alasannya ada di QS. Al Maidah: ; 44; 48
    tegasnya.

Beliau juga menanyakan kepada jemaah hitunglah dosa “investasi” kita? berapa kali setiah hari ada perzinahan, pembunuhan, pencurian dsb?

Diakhir ceramahnya beliau mengajak kepada jemaah agar senantiasa kita memperjuangakan menerapkan fardu kifayah agar kita terhindar dari dosa-dosa karena kita meninggalkan fardu kifayah. Karena dosa itu akan dituliskan kepada orang yang hanya diam, tidak berjuang menerapkannya. Pungkas beliau.

Muhammad Al Fatih Sang Penakluk Konstantinopel

taufikAda suasana berbeda di Masjid Al-jihad Dipatiukur pada Rabu (17 Juli 2013). Hari itu, suasana masjid begitu cerah dan menggelegar. Sebuah kajian yang di sampaikan oleh Ust Taufiq Sutyarahman mampu menyegarkan suasana ramadhan di hari itu.
Sesosok pahlawan fenomenal yang menginspirasi dunia dipaparkan secara gamblang oleh pembicara. Muhammad Al-fatih, sang penakluk konstantinopel , menjadi pewujud bisyarah rasulullah saw. Dan berhasil menjadi sebaik-baiknya pemimpin, sesuai dengan hadits dari rasul yang diriwayatkan oleh ahmad bahwa “sebaik-baiknya panglima adalah panglima yang menaklukkan konstantinopel dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan yang menaklukkannya”. Continue reading

Tata Cara Wudhu untuk Orang yang Puasa

Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum, Ustadz mau nanya nih, bagaimana wudlunya orang yang berpuasa ?
tetap berkumur apa nggak ? Tks…

Dari: Zazam

Jawabab

Wa alaikumus salam
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Tata cara wudhu orang yang puasa sama dengan tata cara wudhu pada umumnya. Artinya tetap melakukan kumur-kumur, dan menghirup air ke dalam hidung. Hanya saja, tidak boleh terlalu keras, karena dikhawatirkan bisa masuk ke lambung.

Berikut beberapa dalilnya,

Dari Laqith bin Shabrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَسْبِغِ الْوُضُوءَ، وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

Sempurnakanlah wudhu, bersungguh-sungguhlah ketika istisyaq (menghirup air ke dalam hidung), kecuali ketika kamu sedang puasa. (HR. Nasa’i 87, Abu Daud 142, Turmudzi 788 – hadis shahih)

Imam Ibnu Baz ketika menjelaskan hadis ini, mengatakan,

فأمره صلى الله عليه وسلم بإسباغ الوضوء ثم قال : (وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائماً) فدل ذلك على أن الصائم يتمضمض ويستنشق ، لكن لا يبالغ مبالغة يخشى منها وصول الماء إلى حلقه ، أما الاستنشاق والمضمضة فلابد منهما في الوضوء والغسل ؛ لأنهما فرضان فيهما في حق الصائم وغيره

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyempurnakan wudhu, kemudian beliau bersabda,

‘bersungguh-sungguhlah ketika istisyaq, kecuali ketika kamu sedang puasa’

ini menunjukkan bahwa orang yang berpuasa juga berkummur dan menghirup air ke dalam hidung. Hanya saja tidak boleh terlalu keras, karena dikhawatirkan akan ada air yang masuk kerongkongannya. Sementara istinsyaq dan berkumur tetap harus dilakukan dalam wudhu maupun mandi, karena keduanya merupakan kewajiban dalam wudhu, baik untuk orang yang puasa maupun lainnya.

(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawi’ah, 15/280)

 

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya,

‘Apakah berkumur tidak disyariatkan untuk wudhunya orang yang puasa?’

Jawab beliau,

ليس هذا بصحيح، فالمضمضة في الوضوء فرض من فروض الوضوء، سواء في نهار رمضان أو في غيره للصائم ولغيره

Kesimpulan ini tidak benar. berkumur ketika wudhu termasuk salah satu kewajiban dalam wudhu. Baik dilakukan di siang hari ramadhan atau waktu lainnya bagi orang yang puasa.

(Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, jilid ke-19, Bab: Pembatal-pembatal Puasa)

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)