Undangan Shalat Idul Fitri 1436 di Kampus UNPAD

Undangan Acara Shalat Idul Fitri 1436H

Shalat Idul Fitri 1436 H
1 Syawal 1436 H
Bertempat di Lapangan Parkir Utara,
Kampus Unpad Dipatiukur Bandung

=========================

Gema Takbir membahana, Kemenangan datang bagi mereka yang berpuasa dan mengimani Allah SWT dan Rasul SAW.

Tak terasa Ramadhan berlalu, dan kita dihimpun dalam ketawadluan dan kembali seakan menjadi suci.

Mengajak serta hadir dalam rangkaian Paramadika (Panitia Ramadhan dan Idul Fitri di Kampus) 1436 H, pada shalat ied kali ini.

Bertindak sebagai imam dan khotib Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad, dr. (Rektor Universitas Padjadjaran)

Prof. Romli Atmasasmita, SH., LLM., Masuki Masa Purnabakti

[Unpad.ac.id, 15/11/2014] Setelah 35 tahun mengabdi di Unpad, di usianya yang ke-70, Guru Besar Emeritus Hukum Pidana Internasional Unpad, Prof. Dr. Romli Atmasasmita, S.H., LLM., telah banyak menghasilkan berbagai pemikiran di bidang Hukum Pidana Internasional. Bahkan, pemikirannya tersebut bukan hanya diakui secara nasional, namun juga internasional.

Guru Besar Hukum Pidana Internasional Unpad, Prof. Dr. Romli Atmasasmita, S.H., LLM, saat membacakan pidato purnabaktinya yang berjudul "Karakter dan Arah Politik Hukum dalam Pengembangan Nasional"di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Sabtu (15/11). (Foto: Arief Maulana)*

Guru Besar Hukum Pidana Internasional Unpad, Prof. Dr. Romli Atmasasmita, S.H., LLM, saat membacakan pidato purnabaktinya yang berjudul “Karakter dan Arah Politik Hukum dalam Pengembangan Nasional”di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Sabtu (15/11). (Foto: Arief Maulana)*

“Pemikiran Prof. Romli telah menjadi bagian yang melekat dalam perkembangan hukum Indonesia,” ujar Dekan Fakultas Hukum (FH) Unpad, Dr. Sigid Suseno, SH., saat menyampaikan sambutan dalam acara Purnabakti Prof. Dr. Romli Atmasasmita, SH., LLM., Sabtu (15/11) di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri Bandung.

Acara Purnabakti ini dihadiri oleh tamu undangan, pimpinan universitas, guru besar, dan pejabat nasional diantaranya Ketua Mahkamah Agung, Dr. H. Muhammad Hatta Ali, SH., MH., Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI, Dr. YuddyChrisnandi, Wakil Ketua Komisi Yudisial MK, Dr. H. Abbas Said, SH., MH., Perwakilan Polri, serta Hakim Agung MA, H.M. Zaharuddin Utama, SH.

Menurut Dr. Sigid, sejak medio 1970-an, Prof. Romli telah mengembangkan ilmu hukum di bidang Kriminologi, kemasyarakatan, dan Hukum Pidana Internasional. Prof. Romli juga pernah menjabat sebagai Pejabat Tinggi pada Kementrian Hukum dan HAM.

Ia merupakan aktivis antikorupsi dan arsitek di balik pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi, dengan menjadi Ketua Tim Seleksi Calon Pimpinan KPK tahun 2003. Pada tingkat inetrnasional, Prof. Romli aktif sebagai tim ahli United Nations Convention Against Corruption (Konvensi PBB Melawan Korupsi), serta tercatat sebagai tim ahli United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC).

“Beliau menjadi salah seorang sosok yang telah mengangkat FH Unpad di mata nasional dan internasional. Hal ini dapat menjadi tantangan bagi akademisi muda di FH Unpad untuk ikut mengangkat nama FH Unpad menjadi lebih baik,” kata Dr. Sigid.

Hal tersebut dibenarkan oleh Sekretaris Senat Unpad, Prof. Dr. Hj. Sutyastie Soemitro, SE., MS., yang akrab dipanggil Prof. Tati. Menurutnya, Prof. Romli tercatat sebagai guru besar bidang Hukum Pidana Internasional satu-satunya di Indonesia. Namun, ia pun aktif mengkaderkan keilmuannya kepada para mahasiswanya. Beberapa pejabat di lingkungan pemerintahan pernah menjadi mahasiswa bimbingannya.

“Pemikiran Prof. Romli yang tertuang dalam pidato purnabaktinya kiranya relevan dengan kondisi masa-masa kabinet Indonesia yang baru saat ini. Pemikiran briliannya sangat memberikan kontribusi yang bernilai,” ujar Prof. Tati.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Romli membacakan pidato purnabaktinya berjudul “Karakter dan Arah Politik Hukum dalam Pengembangan Nasional”. Selain pidato purnabakti, acara ini juga diisi dengan peluncuran dan bedah buku “Biografi Hukum Romli Atmasasmita: JalanKeadilan di Tengah Kedzaliman”.

Prof. Romli saat ini menjabat sebagai Direktur di Lembaga Pengkajian Independen Kebijakan Publik (LPIKP). RobiNurhadi, salah satu wakil Direktur di LPIKP menuturkan, Prof. Romli merupakan sosok yang cerdas dan selalu menganalisis permasalahan hokum melalui 3 dimensi ilmu, yaitu hukum, politik, dan ekonomi.

“Prof. Romli memang banyak dibutuhkan orang karena kecerdasannya,” ujar Robi.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh

sumber : www.unpad.ac.id

GMB (GERAKAN MASJID BERSIH 2014)

_MG_1261Dkm Unpad, Masjid Al-Jihad Unpad Dipati Ukur, menyelenggarakan “kegiatan” Masjid bersih. Semua aktivis dari berbagai jurusan dan fakultas sangat menikmati kegiatan tersebut. Kegiatan ini merupakan program kerja yang bertujuan untuk menjaga lingkungan disekitar masjid dan mempererat ukhuwah diantara para aktivis masjid, agar senantiasa menjaga kebersihan lingkungan. mulai dari pagar Masjid, Sekretariat, perpustakaan Masjid.

 

Ust Yadi _MG_1300 _MG_1312GMB - GERAKAN MASJID BERSIH

Ringkasan, Khutbah Jumat 18 April 2014, Prof. Dr. Rer. Nat. Umar Fauzi

Membangun kembali Peradaban Islam melalui ilmu pengetahuan

prof umar fauzi

Mayoritas di negeri kita ini adalah beragama islam, namun mengapa kita menjadi umat yang tertinggal. Kita semua sepakat bahwa ayat yang pertama kali di turunkan adalah perintah untuk membaca, “Iqra bismirabbikaladzi halaq”. Rasulullah saw juga banyak sekali untuk  memerintahkan kita untuk mencari ilmu untuk meneliti, membaca dan mengkaji. “Thalabul ilmu faridotun ‘ala kulli muslimun. Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap muslim.

Bagaimana membangun kembali peradaban Islam, Pertama adalah dengan :

  1. Keimanan yang sangat kuat
  2. Kedisiplinan yang kuat dalam menjalankan aturan agama
  3. mewujudkan persatuan , nilai persaudaraan dan sinergisitas
  4. adanya contoh panutan dalam ketaatan, yaitu Rasulullah saw.

Prof. Dr. Rer. Nat. Umar Fauzi, menjabat sebagai Dekan Fakultas MIPA ITB.

 

Adab Mendengarkan Shalat Jum’at

Buku Khu

HARI Jum’at adalah hari yang istimewa bagi umat muslim dunia, kewajiban seorang laki-laki pada hari Jum’at adalah shalat Jum’at atau yang sering kita sebut Jum’atan. Dalam melaksanakan ibadah shalat Jum’at ada yang dinamakan khutbah.

Di antara syiar Jum’at yang paling besar ialah dua khutbah. Di antara adab orang yang mendengarkannya ialah diam dan mendengarkan khatib selama dua khutbah itu disampaikan, agar dia dapat menyerap nasihatnya dan mengamini doanya.

Karena itulah Rasululloh SAW memperingatkan berkata-kata ketika khutbah disampaikan, meski dengan ucapan yang singkat. Seseorang yang berkata kepada rekan di sampingnya, “Diamlah!” ketika imam menyampaikan khutbah, berarti dia telah mengucapkan perkataan yang rusak, karena dia melakukan sesuatu yang menafikan perhatian terhadap khutbah.
Naskah Hadist:

عَنْ أَبُوهُرَ يْرَة أَنَّ رَسُو لَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قاَلَ إِذَا قُلْتَ لِصَا حِبِكَ يَوْمَ الْخُمُعَةِ أَنْصِتْ و َالإِ مَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْ تَ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda, ‘Jika engkau berkata kepada rekanmu, ‘Diamlah’, pada Jum’at padahal imam sedang menyampaikan khutbah, berarti engkau telah mengucapkan perkataan yang rusak’,”

Penjelasan Lafazh:

Lagha seperti bentuk ghaza, yang artinya mengucapkan perkataan batil yang tidak ada manfaatnya. An-Nadhar bin Syumail menafsirinya dengan perkataan yang tidak ada pahalanya.
Kesimpulan Hadist:

Kewajiban mendengarkan khatib pada saat Jum’at. Ibnu Abdil-Barr menukil ijma’ tentang hukum wajibnya mendengarkan khutbah ini.

Keharaman berbicara ketika mendengarkan khutbah, karena pembicaraan itu menafikan keharusan mendengarkan pada saat itu.

Ada pengecualian untuk masalah ini, yaitu orang yang diajak bicara oleh khatib atau orang yang berbicara dengan khatib, seperti tentang orang yang masuk masjid padahal belum shalat tahiyatul masjid atau seperti kisah Arab Badui yang mengadukan musim kemarau kepada Rasulullah SAW.

Sebagian ulama mengecualikan orang yang tidak dapat mendengarkan khutbah karena jaraknya yang jauh, jika tidak diharuskan diam, tapi dapat melakukan dzikir atau membaca Al-Qur’an. Tapi pendapat ini menimbulkan banyak tanggapan. Adapun orang yang tidak dapat mendengar khutbah tuli, tidak boleh membaca dengan suara nyaring sehingga mengganggu sekitarnya. Dia dapat melakukannya di dalam hati. [aldi/arsipmoslem]

http://www.islampos.com/adab-mendengarkan-khutbah-jumat-105551/