Makna Dzalim Menurut Ulama

34.-Tafsir-at-Thabari Oleh: Rakhmat Robi Pamungkas

 Mahasiswa Sastra Arab Unpad

  Dzalim secara bahasa adalah:

أَصْلُ الظُّلْمِ فِي اللُّغَةِ : وَضْعُ الشَّيْءِ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ ، وَالْجَوْرُ وَمُجَاوَزَةُ الْحَدِّ وَالْمَيْلُ عَنِ الْقَصْدِ ، ثُمَّ كَثُرَ اسْتِعْمَالُهُ حَتَّى سُمِّيَ كُلُّ عَسْفٍ ظُلْمًا  .

 “asal kata dzalim secara bahasa adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, seperti kesewenang-wenangan dan kecenderungan yang melampaui batas dari yang dimaksud” [1]

Sedangkan makna secara istilah tidak jauh berbeda dengan makna bahasa sebagaimana perkataan Imam As-asyaukani :

وَلا يَخْرُجُ فِي الاصْطِلاحِ عَنْ مَعْنَاهُ اللُّغَوِيِّ  

  “dan tidaklah (makna dzalim) keluar secara istilah dari makna bahasa”[2]

 Sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-‘alamah Al-jaliil As-syaikh Atha Abu Rasythah  “setelah pengingkaran iblis dengan perbuatannya Allah mengeluarkannya dari surge Allah berfirman :

“(Allah) berfirman, kalau begitu keluarlah kamu dari surge sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk. Dan sungguh, kutukan-ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”(QS:Shad:77-78)….

kemudian Nabi adam a.s dan pasangannya tinggal disurga dan Allah membolehkan keduanya memakan setiap yang dipilih disurga kecuali pohon tertentu (Khuldi) dan Allah memerintahkan keduanya agar tidak memakannya kecuali (memakan) kalian bagian dari orang-orang yang dzalim.Dan makna dzalim adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya kita memahami makna ayat

“sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar”(QS:Luqman:13).

Karena syirik bermakna menempatkan makhluq pada derajat sang tuhan, yaitu menempatkan makhluq bukan pada tempatnya, dan setiap penempatan sesuatu bukan pada tempatnya maka itulah dzalim, dan siapa saja yang berhukum bukan dengan yang Allah turunkan adalah dzalim,

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang dzalim”(QS:Al-Maidah;45)

menempatkan UU manusia pada derajat UU tuhannya manusia, yaitu menempatkan UU ini bukan pada tempatnya maka itu adalah dzalim.Dan disini sesungguhnya Allah menjadikan pohon itu (khuldi)  terlarang atas mereka  akan tetapi mereka berdua mengindahkan larangan ini dan keduanya memakan buah tersebut yaitu menjadikannya bukan pada tempatnya maka mereka berdua telah berbuat dzalim” [3].

Dan sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Abu Ja’far Ath-thabari dalam tafsirya ketika menafsirkan surat Al-maidah ayat 45 beliau berkata:

القول في تأويل قوله عز ذكره : { وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (45) }

قال أبو جعفر: يقول تعالى ذكره: ومن لم يحكم بما أنزل الله في التوارة من قَوَدِ النفس القاتلة

قِصاصًا بالنفس المقتولة ظلمًا. ولم يفقأ عين الفاقئ بعين المفقوء ظلمًا، قِصاصًا ممن أمره الله به بذلك في كتابه، ولكن أقاد من بعضٍ ولم يُقِدْ من

بعض، أو قتل في بعض اثنين بواحد، فإنّ من يفعل ذلك من”الظالمين” = يعني: ممن جارَ عن حكم الله،  ووضع فعله ما فعل من ذلك في غير موضعه الذي جعله الله له موضعًا.

 “perkataan  didalam ta’wil firman Allah SWT  yang Allah sebutkan:{dan barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang Allah turunkan maka mereka itulah orang-orang dzalim(45)}, berkata Abu Ja’far: Allah SWT berkata dengan menyebutkan ayat :dan barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang Allah turunkan {didalam taurat} dari qishah jiwa yang membunuh dengan jiwa yang terbunuh adalah dzalim. Dan tidak mencungkil mata yang mencungkil dengan mata yang dicungkil adalah dzalim, dan qishas kepada siapa saja yang Allah perintahkan dengannya (qishah) didalam kitabnya, dan akan tetapi ada yang melaksanakan sebagian dan ada yang tidak melaksanakn sebagian, atau membunuh dua bagian dengan dituntut satu bagian, maka jika seseorang berbuat seperti itu dia adalah bagian daro “orang-orang dzalim”  yaitu: siapa saja yang berbuat sewenang-wenang dari hukum Allah, dan meletakan perbuatannya bukan pada tempatnya yang Allah telah menjadikannya tempat” [4]

 

      Kesimpulannya segala perbuatan yang dilakukan tidak menempatkan pada tempatnya maka bisa terkategori sebagai perbuatan dzalim, dan perbuatan yang paling besar kedzalimannya adalah perbuatan syirik sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya:

{ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ } أي: هو أعظم الظلم.

 “{sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar (QS:Luqman:13)}, yaitu adalah kedzaliman yang paling besar” [5]

 Termasuk menerapkan hukum selain hukum Allah adalah sebuah kedzaliman yang sangat besar karena mengambil haq Allah sebagai sang maha pencipta didalam mengatur seluruh kehidupan , tidak tanggung-tanggung Allah melebeli orang yang tidak mau menerapkan hukum Allah dengan label kekafiran Imam Abu Ja’far berkata dalam surat Al-maidah ayat 45 :

 

عباس:”ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافررن”، قال: هي به كفر، وليس كفرًا بالله وملائكته وكتبه ورسله.

 “Ibnu ‘Abbas berkata: “dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka itulah termasuk orang-orang kafir”,dia berkata: dia dengannya kafir, akan tetapi bukan kafir kepada Allah, kitabnya, dan rasulnya.[6]*

 Ketika seseorang meyakini bahwa hukum Allah tidak layak untuk diterapkan dan melakukannya secara I’tiqadi maka dia telah jatuh kedalam kekafiran haqiqiyan namun ketika tidak dibarengi dengan i’tiqad maka jatuh dzalim atau fasiq. Maka dari itu mari kita tinggalkan segala kedzaliman baik yang kecil ataupun yang besar.

Daftar Pustaka

 [1] Al-Mausu’ah Al- Fiqhiyah . hal.169

 [2] Fathu Al-qadir. 5/433. Imam As-syaukani

 [3] At-taisir Fi Ushul At-tafsir.hal.70. As-syaikh Atha Abu Rasythah

 [4] Tafsir Ath-Thabari. 10/372-373. Imam Abu Ja’far Ath-Thabari

 [5] Tafsir Al-qur’an Al-‘Adzim. 6/336. Imam Ibnu Katsir

 [6] Tafsir Ath-Thabari. 10/356.Imam Abu Ja’far Ath-Thabari                                        *الأثر: 12053- خبر طاوس عن ابن عباس ، رواه الحاكم في المستدرك (2: 313) من طريق سفيان بن عيينة ، عن هشام بن ججير ، عن طاوس ، عن ابن عباس: “إنه ليس بالكفر الذي يذهبون إليه ، إنه ليس كفرًا ينقل عنه الملة =”ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون” ، كفر دون الكفر” ، هذا لفظه ، ثم قال: “هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه” ، وقال الذهبي: “صحيح”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *