Tafsir surat Al-hujurat : 12 (hukum tajasus)

penyadapan

Selasa (19/11/13) di masjid Raya ibnu sina, selepas melaksanakan shalat magrib berjama’ah, para aktifis DKM unpad dan jama’ah masjid raya ibnu sina berkumpul bersama untuk mengikuti kajian Tafsir tematis, bersama ust Nurhilal ahmad (dosen fisika unpad). Pada kajian tersebut, ust nurhilal membahas tafsir surat al-hujurat ayat 12, yaitu hukum tajasus (memata-matai).

Seperti yang kita ketahui, bahwa dalam beberapa hari terakhir ini, telah terjadi penyadapan terhadap pemerintah Indonesia. Karena itu, dkm unpad membahas tema ini. Bagaimana sebenarnya hukum penyadapan itu? Bagaimana pandangan islam mengenai penyadapan?.

Pembicara menegaskan bahwa perbuatan memata-matai, mencari-cari kesalahan orang lain merupakan salah satu perbuatan yang diharamkan secara syar’i. karena telah jelas, seperti yang terdapat dalam surat al-hujurat disebutkan bahwa kita harus menjauhi kebanyakan prasangka (yaitu suudzhon), karena kebanyakan dari prasangka itu dosa.

Ustadz nurhilal pun menjelaskan bahwa seharusnya seorang muslim itu berprasangka baik terhadap saudaranya, dan jangan suka mencari-cari kesalahan orang. “orang soleh biasanya suka ditunggu-tunggu saat-saat dia berbuat salah, pas dia melakukan satu kesalahan, kemudian kesalahan itu dikambinghitamkan dan dibesar-besarkan, sehingga menjadi aib. Itu tidak boleh” tegas ustadz nurhilal. “Ketika seseorang melakukan sebuah kesalahan, justru kita diwajibkan menutup aib orang tersebut, karena ketika seseorang menutupi aib orang lain di dunia, maka allah akan menutup aibnya di akhirat” lanjut ustadz nurhilal.

Namun ada beberapa syarat, aib seseorang itu wajib ditutupi. Karena  justru dalam keadaaan lain aib orang itu harus diungkapkan kepada masyarakat, supaya tidak menimbulkan dharar. Adapun beberapa syarat wajib menutupi aib orang lain yaitu :

–          Perbuatan tersebut baru pertama kali dilakukan

–          Orang yang melakukannya merupakan orang yang dikenal baik

–          Perbuatan itu tidak menimbulkan bahaya

Pada keadaan lain, justru aib itu tidak boleh ditutup-tutupi dan harus diungkapkan. “Contohnya, jika ada penipu ulung yang kerjanya nipu, maka hal seperti ini harus diungkapkan kepada masyarakat supaya tidak ada yang menjadi korban”.

Terkait dengan kasus penyadapan yang dilakukan oleh sebuah Negara kepada Negara yang lain, pembicara memberikan penjelasan, bahwa Negara tidak boleh melakukan spionase kepada siapapun, baik dari sebuah Negara kepada Negara lain, ataupun dari Negara kepada rakyatnya. Karena telah jelas bahwa hukum Tajasus adalah haram.

Dalam islam, Negara boleh melakukan aktifitas spionase hanya sebatas untuk melihat sejauh mana kekuatan militer dan ketahanan suatu Negara. Dalam arti, kebolehannya itu hanyalah sebatas untuk kebutuhan perang (dengan melihat kekuatan musuh). Adapun aktifitas memata-matai aktifitas kepala Negara dari Negara musuh, dan para pejabatnya, jelas tidak boleh.

Pembicara pun menegaskan, “bahkan kepada kafir dzimmi (non-muslim yang tinggal di Negara islam) pun, tidak boleh dimata-matai”.

orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain (memata-matai), menurut surat al-hujurat ayat 12 ini, seperti memakan daging bangkai saudaranya sendiri”. [TS]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *