Paramadika 1435. Marhaban ya Ramadhan !

masjid Al-Jihad

 

 

 

Tidak dirasa sudah masuk bulan ramadhan lagi, selama 30 hari ke depan kita akan menawan hawa nafsu, menahan lapar dari imsak hingga berbuka. maghrib. Kita di tuntut untuk melakukan sebaik-baiknya amal, karena selama bulan ramadhan Allah SWT, memberikan bonus dan penghargaan kepada hamba-Nya yang mau melakukan amalan yang ‘rakus’. karena kata Rasul “pada bulan ramadhan pintu surga di buka lebar-lebar, dan pintu neraka di tutup rapat-rapat” (HR. Muslim).

DKM Al-Jihad Unpad Dipati Ukur, sudah melayani jemaah sekitar dipati ukur kurang lebih selama 40 tahun. selama itu pula, kegiatan ramadhan terus di bangun dengan spirit untuk memakmurkan masjid. dari mulai shalat taraweh, kultum shubuh, ta’jil gratis, kajian pengantar berbuka, zakat fitrah, shalat ‘idul fitri dan sebagainya.

teman-teman mahasiswa bisa belajar untuk memahami bagaimana mendisain acara-acara dan berkomunikasi kepada masyarakat sekitar, agar ketika setelah lulus dari kampus tercinta ini bisa mengabdi lebih besar kepada masyarakat.

Ketika Wudhu , Kenapa Harus Menghirup Air ?

Wudlu

Wudlu

Pintu masuk kotoran ke dalam tubuh, salah satunya adalah melalui lubang hidung. Berbagai kotoran dan debu yang beterbangan dan tak terlihat oleh mata, dapat terhirup masuk ke dalam hidung. Apalagi dengan polusi udara yang disebabkan oleh asap kendaraan bermotor. Hal itu dapat menyebabkan kesehatan terganggu. Karena itu, sebaiknya kita senantiasa menjaga kebersihan hidung dengan cara membersihkannya menggunakan air, yaitu memasukkannya (menghirup) ke dalam hidung kemudian dikeluarkan kembali. Continue reading

Jejak Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Era Peradaban Islam

JEJAK ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DI ERA PERADABAN ISLAM : SEBUAH REFERENSI PENGANTAR

ibnu-haitam

(Oleh : Heraldo Yanindra P. |Jurusan Fisika Unpad 2012)

Pengurus Aktif LDK DKM Unpad

Kontribusi kaum Muslim dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah dimulai sejak abad-abad lamanya. Para intelektual muslim di zaman dahulu telah menciptakan suatu konsep-konsep ilmu pengetahuan secara aspek fisik (kualitatif) dan aspek matematis (kuantitatif) dari suatu ilmu pengetahuan. Mereka melakukan penelitian terhadap aspek kualitatif maupun kuantitatif dari berbagai problem ilmiah. Bidang-bidang keilmuan yang ditekuninya pun beragam, mulai dari fisika, kimia, matematika, astronomi, kedokteran, geografi, dan sebagainya.

Sebelum kedatangan Islam, bangsa Arab hanya menguasai pengetahuan yang minim dalam bidang sejarah dan geografi. Pengetahuan sejarah yang dimiliki hanya terbatas pada informasi tentang suku-suku lokal serta wilayahnya masing-masing. Islam sebagai ideologi mendorong manusia untuk berpikir dan memperoleh pendidikan. Kaum muslim diwajibkan untuk berinteraksi dengan umat lain dalam rangka menyampaikan dakwah kepada mereka. Dalam upayanya melaksanakan tugas ini, kaum Muslim diperintahkan untuk membangun kekuatan material. Khalifah bertanggung jawab untuk menggunakan segala cara yang sesuai hukum syara’ untuk memelihara urusan umat. Ini semua merupakan faktor yang mendorong kaum Muslim untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sejarah ilmuwan Islam menyisakan cerita perjalanan panjang para ilmuwan muslim dalam berbagai bidang keilmuan. Penelitian serta berbagai penemuan menjadi hal yang biasa dalam menghiasi perjalanan cerita sejarah ilmuwan Islam. Ilmu menjadi “santapan” mereka setiap harinya.

Sejak turun wahyu pertama pada tahun 610 masehi, Islam menunjukkan keberpihakannya pada ilmu pengetahuan. Wahyu tersebut terdapat pada surat Al-Alaq ayat 1, “Iqra bismirabbikalladzi khalaq.” Ayat ini mendorong pada umat Islam untuk mendalami ilmu. Maka, berabad-abad setelahnya, dunia mencatat jejak-jejak sejarah ilmuwan Islam yang tak terhitung banyaknya.

Jejak ilmu pengetahuan memang tidak secara nyata mewarnai masa permulaan Islam, mengingat budaya bangsa Arab masa itu begitu jauh dari ilmu. Bahkan, tenggelam pada kegelapan jahiliyah. Namun, Islam secara perlahan menyalakan kegairahan terhadap ilmu, merangsang elemen terpenting dari manusia, yakni pikiran. Dasar itulah yang banyak ikut menciptakan sejarah perjalanan kiprah para ilmuwan Islam. Sejarah ilmuwan Islam meninggalkan jejak yang hingga kini masih bisa dideteksi oleh para sejarawan. Jejak-jejak tersebut sangat terasa dalam beberapa bidang keilmuan. Hasil pemikiran para ilmuwan Islam pada zaman dahulu nyatanya masih tetap abadi hingga kini. Hal abadi yang sulit untuk lekang oleh waktu memang ilmu pengetahuan. Ibaratnya, keilmuan adalah suatu warisan peradaban yang tidak bisa dinilai dengan angka.

Sejarah Para Ilmuwan Islam.

Para ilmuwan Islam sudah mengenal aspek fisik (kualitatif) dan aspek matematis (kuantitatif) dari suatu ilmu pengetahuan. Mereka melakukan penelitian terhadap kedua aspek tersebut yang ditinjau dari sisi ilmiah. Sebagai contoh, kiprah Ibnu Khurdadhbih menghitung derajat lintang dan bujur berbagai tempat di dunia Islam, serta Al-Biruni yang menghitung kemolaran (konsentrasi) sejumlah zat kimia.

Eksperimen-eksperimen ilmiah dalam bidang kimia, fisika, dan farmasi dilakukan di laboratorium; sedangkan penelitian dalam bidang patologi dan pembedahan dilakukan di rumah sakit-rumah sakit. Sejumlah observatorium juga dibangun di beberapa lokasi di dunia Islam, seperti di Damaskus, Baghdad, dan Naisabur, untuk melakukan pengamatan astronomi.

Persiapan bedah mayat juga dilakukan dalam rangka praktik pengajaran anatomi. Khalifah al-Mu’tashim pernah mengirimkan kera untuk dijadikan peraga dalam kegiatan ini. Demonstrasi operasi pembedahan bagi para mahasiswa diberikan di rumah sakit-rumah sakit.

Pada abad 11 dan 12 M, tingkat pemahaman aksara di kalangan kaum Muslimin mencapai level tertinggi. Tingginya semangat keilmuan pada masa itu diindikasikan dengan karya optik Shihab al-Din al-Qirafi, seorang ulama fiqih dan juga hakim di Kairo (wafat pada tahun 1285) yang menangani 50 macam masalah penglihatan.

Dalam naungan hukum Islam, para ilmuwan tidak hanya memberikan kontribusi demi kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengaplikasikan penemuan ilmiahnya dalam bentuk inovasi teknologi. Sebagai contoh, di dalam bidang astronomi, mereka mengamati bintang-bintang, kemudian menyusun peta bintang untuk keperluan navigasi, dan hingga saat ini konsep tersebut masih digunakan sebagai Tata Koordinat Benda Langit (Saat ini sudah dikenal 3 macam Tata Koordinat Benda Langit yaitu tata ekliptik, tata equator, dan tata galaktik). Kemudian dalam bidang fisika, Ibnu Yunus memanfaatkan pendulum untuk menentukan ukuran waktu. Ibnu Sina menggunakan termometer udara untuk mengukur temperatur udara. Kertas, kompas, bubuk mesiu, asam anorganik, dan alkali, merupakan sebagian bukti penting perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan ilmuwan Muslim yang menghasilkan revolusi peradaban manusia yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Para ilmuwan Muslim menjadikan aljabar sebagai cabang dari matematika. Istilah ‘aljabar’ berasal dari bahasa Arab yaitu ‘Jabr’. Para cendekiawan Muslim juga mengembangkan trigonometri bidang datar dan sferis, serta mengaplikasikannya dalam ilmu astronomi (Saat ini pengaplikasian trigonometri dalam bidang astronomi digunakan dalam konsep metode paralaks bintang). Mereka juga memisahkan astrologi dan astronomi, karena astrologi yang berkeyakinan bahwa posisi bintang dapat menentukan nasib hidup manusia, merupakan bid’ah dalam Islam. Maka astronomi berkembang menjadi ilmu murni setelah dibersihkan dari kepercayaan-kepercayaan yang bersifat takhayul.

Berbagai kata atau istilah Arab yang banyak digunakan dalam bahasa Eropa menjadi monumen hidup kontribusi kaum Muslim pada sains modern. Disamping itu, sejumlah besar buku di berbagai perpustakaan di Asia dan Eropa, museum-museum di berbagai negeri, serta masjid dan istana yang dibangun berabad-abad silam juga merupakan bukti adanya fenomena penting ini dalam sejarah dunia.

Dalam proses penerjemahan, banyak nama ilmuwan Muslim yang mengalami perubahan, sehingga membuat para pembaca mengira mereka adalah orang-orang non-Muslim dari Eropa. Beberapa nama di antaranya adalah Abul Qasim al-Zahrawi (Albucasis), Muhammad ibnu Jabir ibnu Sinan al-Battani (Albetinius), dan Abu ‘Ali ibnu Sina (Avicenna).

Khatimah

Kaum Muslim memahami bahwa pengetahuan yang bersifat rasional dan alamiah terbuka bagi siapa saja yang ingin mempelajari. Dalam wilayah ilmu murni, kita boleh menggunakan akal kita; atau mengambil pendapat-pendapat yang bersifat teknis dan ilmiah dari pemikiran orang lain. Sebagai contoh, bila seseorang hendak merancang mesin, ia boleh merujuk pada rancangan mesin yang sudah ada tanpa perlu memperitmbangkan lagi siapa yang membuatnya, Muslim atau Non-Muslim. Ilmu-ilmu murni tidak melibatkan sudut pandang seseorang tentang kehidupan, baik kapitalisme, budhisme, atau Islam. Ilmu murni memberikan pemahaman yang sama bagi semua orang.

Dengan demikian, jelas bahwa kaum Muslim terdahulu telah meraih perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi pada masa itu serta menjadi pelopr ilmu pengetahuan di berbagai bidang baru. Semangat penelitian di kalangan ilmuwan Muslim serta metode ilmiah yang mereka rumuskan telah menghasilkan revolusi ilmu pengetahuan modern.

Kajian Tafsir Al-Quran QS An Nur ayat 30-31

IMG_0640Melanjutkan kajian tafsir Al-Quran yang diselenggarakan rutinan oleh DKM Unpad setiap rabu malam, Ust. Nurhilal Ahmad menyampaikan ayat Al-Quran Surat An-Nur ayat 30 sampai ayat 31.
Hendaklah laki-laki yang beriman menundukan pandangan dari hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh syariat, papar beliau. Dalam penjelasannya beliau menyampaikan beberapa poin penting yang tidak hanya cukup kita fahami, tetapi harus kita amalkan.
1. Laki-laki dan perempuan yang beriman hendaklah menjaga pandangannya
2. laki-laki dan perempuan yang beriman hendaklah memelihara kemaluannya
3. Jangan menampakkan aurat, kecuali yang bisas terlihat
4. Kewajiban bagi perempuan yang beriman memakai kerudung dan jilbab.

 

IMG_0646 IMG_0648 IMG_0650 IMG_0651