30 Jurus Mengubah Nasib – Karya Prof. Dr-Ing Fahmi Amhar

 

1451964_605363949548496_1401914166_n

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri
(Ar-Rad 11)”

Apa saja dalam diri kita bias kita ubah, seraya kita berharap agar Allah mengubah nasib kita, mengubah jalan hidup kita, menuju kesuksesan dan keberkahan ? Juga bagaimana agar nasib bangsa kita, mengubah jalan hidup kita, menuju kesuksan dan keberkahan ?  Juga bagaimana agar nasib bangsa kita, umat islam di seluruh penjuru dunia, yang saat ini masih jauh dari ideal, yaitu umat terbaik? Apa yang harus diubah pada mereka, agar doa mereka ijabah, agar kita memang pantas untuk diubah nasibnya oleh Allah azza wa jalla ?

Setiadaknya didalam buku yang dikarang oleh Prof. Fahmi Amhar ada 30 jurus yang perlu diubah agar kita bisa merubah nasib kita menjadi yang lebih baik. 30 hal yang perlu diubah yaitu :
1. Ubah Konsumsi
2. Ubah Posisi
3. Ubah Donasi
4. Ubah Refrensi
5. Ubah Frekuensi
6. Ubah Asumsi
7. Ubah Informasi
8. Ubah Internalisasi
9. Ubah Persepsi
10. Ubah Diferensiasi
11. Ubah Orientasi
12. Ubah Obsesi
13. Ubah Alokasi
14. Ubah Zonasi
15. Ubah Investasi
16. Ubah Kompetensi
17. Ubah  Kompetisi
18. Ubah Relasi
19. Ubah Kontribusi
20. Ubah Formasi
21. Ubah Transaksi
22. Ubah Tradisi
23. Ubah Rekreasi
24. Ubah Amunisi
25. Ubah Valuasi
26. Ubah Koreksi
27. Ubah Estimasi
28. Ubah Konsentasi
29. Ubah Kaderisasi
30. Ubah Konsistensi
Bertempat di Gedung sayap kanan masjid UGM agenda bedah buku ini diselenggarakan langsung bersama penulisnya.

Download bedah buku karangan Prof. Dr. Ing. H. Fahmi Amhar :
30 JURUS MENGUBAH NASIB.mp3

sumber : http://senyumparainsan.wordpress.com/2014/04/27/3o-jurus-mengubah-nasib-ust-prof-fahmi-amhar/

30 jurus dpan-500x500

Semarak Shalat Idul Adha 1434H di Kampus Jatinangor

Jamaah Mendengarkan Khutbah Idul Adha 1434 H dengan Seksama

Jamaah Mendengarkan Khutbah Idul Adha 1434 H dengan Seksama

Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar. Takbir telah membahana. Kali ini DKM Universitas Padjadjaran khususnya sektor Masjid Raya Ibnu Sina mengadakan Sholat Idul Adha 1434H. Kegiatan Sholat ini berlangsung pada 15 Oktober 2013. Diiringi alunan takbir, ratusan jamaah berbondong-bondong datang untuk pelaksanaan Sholat Idul Adha. Pukul 06.25 WIB Rangkaian acara Sholat Idul Adha dimulai. Bertindak selaku imam dan Khotib adalah Dr. H. A.A. Handaka Suryana, MT (Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad yang juga aktif sebagai Sekretaris Umum DKM UNPAD). Continue reading

Jejak Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Era Peradaban Islam

JEJAK ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DI ERA PERADABAN ISLAM : SEBUAH REFERENSI PENGANTAR

ibnu-haitam

(Oleh : Heraldo Yanindra P. |Jurusan Fisika Unpad 2012)

Pengurus Aktif LDK DKM Unpad

Kontribusi kaum Muslim dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah dimulai sejak abad-abad lamanya. Para intelektual muslim di zaman dahulu telah menciptakan suatu konsep-konsep ilmu pengetahuan secara aspek fisik (kualitatif) dan aspek matematis (kuantitatif) dari suatu ilmu pengetahuan. Mereka melakukan penelitian terhadap aspek kualitatif maupun kuantitatif dari berbagai problem ilmiah. Bidang-bidang keilmuan yang ditekuninya pun beragam, mulai dari fisika, kimia, matematika, astronomi, kedokteran, geografi, dan sebagainya.

Sebelum kedatangan Islam, bangsa Arab hanya menguasai pengetahuan yang minim dalam bidang sejarah dan geografi. Pengetahuan sejarah yang dimiliki hanya terbatas pada informasi tentang suku-suku lokal serta wilayahnya masing-masing. Islam sebagai ideologi mendorong manusia untuk berpikir dan memperoleh pendidikan. Kaum muslim diwajibkan untuk berinteraksi dengan umat lain dalam rangka menyampaikan dakwah kepada mereka. Dalam upayanya melaksanakan tugas ini, kaum Muslim diperintahkan untuk membangun kekuatan material. Khalifah bertanggung jawab untuk menggunakan segala cara yang sesuai hukum syara’ untuk memelihara urusan umat. Ini semua merupakan faktor yang mendorong kaum Muslim untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sejarah ilmuwan Islam menyisakan cerita perjalanan panjang para ilmuwan muslim dalam berbagai bidang keilmuan. Penelitian serta berbagai penemuan menjadi hal yang biasa dalam menghiasi perjalanan cerita sejarah ilmuwan Islam. Ilmu menjadi “santapan” mereka setiap harinya.

Sejak turun wahyu pertama pada tahun 610 masehi, Islam menunjukkan keberpihakannya pada ilmu pengetahuan. Wahyu tersebut terdapat pada surat Al-Alaq ayat 1, “Iqra bismirabbikalladzi khalaq.” Ayat ini mendorong pada umat Islam untuk mendalami ilmu. Maka, berabad-abad setelahnya, dunia mencatat jejak-jejak sejarah ilmuwan Islam yang tak terhitung banyaknya.

Jejak ilmu pengetahuan memang tidak secara nyata mewarnai masa permulaan Islam, mengingat budaya bangsa Arab masa itu begitu jauh dari ilmu. Bahkan, tenggelam pada kegelapan jahiliyah. Namun, Islam secara perlahan menyalakan kegairahan terhadap ilmu, merangsang elemen terpenting dari manusia, yakni pikiran. Dasar itulah yang banyak ikut menciptakan sejarah perjalanan kiprah para ilmuwan Islam. Sejarah ilmuwan Islam meninggalkan jejak yang hingga kini masih bisa dideteksi oleh para sejarawan. Jejak-jejak tersebut sangat terasa dalam beberapa bidang keilmuan. Hasil pemikiran para ilmuwan Islam pada zaman dahulu nyatanya masih tetap abadi hingga kini. Hal abadi yang sulit untuk lekang oleh waktu memang ilmu pengetahuan. Ibaratnya, keilmuan adalah suatu warisan peradaban yang tidak bisa dinilai dengan angka.

Sejarah Para Ilmuwan Islam.

Para ilmuwan Islam sudah mengenal aspek fisik (kualitatif) dan aspek matematis (kuantitatif) dari suatu ilmu pengetahuan. Mereka melakukan penelitian terhadap kedua aspek tersebut yang ditinjau dari sisi ilmiah. Sebagai contoh, kiprah Ibnu Khurdadhbih menghitung derajat lintang dan bujur berbagai tempat di dunia Islam, serta Al-Biruni yang menghitung kemolaran (konsentrasi) sejumlah zat kimia.

Eksperimen-eksperimen ilmiah dalam bidang kimia, fisika, dan farmasi dilakukan di laboratorium; sedangkan penelitian dalam bidang patologi dan pembedahan dilakukan di rumah sakit-rumah sakit. Sejumlah observatorium juga dibangun di beberapa lokasi di dunia Islam, seperti di Damaskus, Baghdad, dan Naisabur, untuk melakukan pengamatan astronomi.

Persiapan bedah mayat juga dilakukan dalam rangka praktik pengajaran anatomi. Khalifah al-Mu’tashim pernah mengirimkan kera untuk dijadikan peraga dalam kegiatan ini. Demonstrasi operasi pembedahan bagi para mahasiswa diberikan di rumah sakit-rumah sakit.

Pada abad 11 dan 12 M, tingkat pemahaman aksara di kalangan kaum Muslimin mencapai level tertinggi. Tingginya semangat keilmuan pada masa itu diindikasikan dengan karya optik Shihab al-Din al-Qirafi, seorang ulama fiqih dan juga hakim di Kairo (wafat pada tahun 1285) yang menangani 50 macam masalah penglihatan.

Dalam naungan hukum Islam, para ilmuwan tidak hanya memberikan kontribusi demi kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengaplikasikan penemuan ilmiahnya dalam bentuk inovasi teknologi. Sebagai contoh, di dalam bidang astronomi, mereka mengamati bintang-bintang, kemudian menyusun peta bintang untuk keperluan navigasi, dan hingga saat ini konsep tersebut masih digunakan sebagai Tata Koordinat Benda Langit (Saat ini sudah dikenal 3 macam Tata Koordinat Benda Langit yaitu tata ekliptik, tata equator, dan tata galaktik). Kemudian dalam bidang fisika, Ibnu Yunus memanfaatkan pendulum untuk menentukan ukuran waktu. Ibnu Sina menggunakan termometer udara untuk mengukur temperatur udara. Kertas, kompas, bubuk mesiu, asam anorganik, dan alkali, merupakan sebagian bukti penting perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan ilmuwan Muslim yang menghasilkan revolusi peradaban manusia yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Para ilmuwan Muslim menjadikan aljabar sebagai cabang dari matematika. Istilah ‘aljabar’ berasal dari bahasa Arab yaitu ‘Jabr’. Para cendekiawan Muslim juga mengembangkan trigonometri bidang datar dan sferis, serta mengaplikasikannya dalam ilmu astronomi (Saat ini pengaplikasian trigonometri dalam bidang astronomi digunakan dalam konsep metode paralaks bintang). Mereka juga memisahkan astrologi dan astronomi, karena astrologi yang berkeyakinan bahwa posisi bintang dapat menentukan nasib hidup manusia, merupakan bid’ah dalam Islam. Maka astronomi berkembang menjadi ilmu murni setelah dibersihkan dari kepercayaan-kepercayaan yang bersifat takhayul.

Berbagai kata atau istilah Arab yang banyak digunakan dalam bahasa Eropa menjadi monumen hidup kontribusi kaum Muslim pada sains modern. Disamping itu, sejumlah besar buku di berbagai perpustakaan di Asia dan Eropa, museum-museum di berbagai negeri, serta masjid dan istana yang dibangun berabad-abad silam juga merupakan bukti adanya fenomena penting ini dalam sejarah dunia.

Dalam proses penerjemahan, banyak nama ilmuwan Muslim yang mengalami perubahan, sehingga membuat para pembaca mengira mereka adalah orang-orang non-Muslim dari Eropa. Beberapa nama di antaranya adalah Abul Qasim al-Zahrawi (Albucasis), Muhammad ibnu Jabir ibnu Sinan al-Battani (Albetinius), dan Abu ‘Ali ibnu Sina (Avicenna).

Khatimah

Kaum Muslim memahami bahwa pengetahuan yang bersifat rasional dan alamiah terbuka bagi siapa saja yang ingin mempelajari. Dalam wilayah ilmu murni, kita boleh menggunakan akal kita; atau mengambil pendapat-pendapat yang bersifat teknis dan ilmiah dari pemikiran orang lain. Sebagai contoh, bila seseorang hendak merancang mesin, ia boleh merujuk pada rancangan mesin yang sudah ada tanpa perlu memperitmbangkan lagi siapa yang membuatnya, Muslim atau Non-Muslim. Ilmu-ilmu murni tidak melibatkan sudut pandang seseorang tentang kehidupan, baik kapitalisme, budhisme, atau Islam. Ilmu murni memberikan pemahaman yang sama bagi semua orang.

Dengan demikian, jelas bahwa kaum Muslim terdahulu telah meraih perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi pada masa itu serta menjadi pelopr ilmu pengetahuan di berbagai bidang baru. Semangat penelitian di kalangan ilmuwan Muslim serta metode ilmiah yang mereka rumuskan telah menghasilkan revolusi ilmu pengetahuan modern.

Penyelenggaraan Shalat Idul Fitri 1434 H di UNPAD

idul fitri unpadTepat pada pukul 06.30 di hari yang begitu cerah ribuan jamaah melaksanakan Shalat Idul Fitri di Lapangan Parkir Utara kampus Universitas Padjadjaran (Kamis, 08/08/2013). Jamaah sudah mulai memadati lapangan sejak pukul 05.30. Pelaksanaan shalat Idul Fitri ini merupakan agenda tahunan Unpad dengan lembaga kerohaniannya Islam tertinggi, Dewan Keluarga Masjid Universitas Padjadjaran (DKM Unpad). Dalam pelaksanaannya Rektor Unpad, Prof. Dr. Ir. H. Ganjar Kurnia, DEA., Bertindak sebagai imam shalat, dan khatib kali ini adalah Dr. Med. Setiawan, dr selaku Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan Kerja sama. Adapun tema yang diangkat dalam khutbahnya yaitu “Refleksi Puasa : Upaya Untuk membangun Diri dan Masyarakat yang Sehat”.

Pelaksanaan shalat Idul fitri ini diawali dengan sambutan dari Ketua Umum DKM Unpad, Budi Harsanto,SE, MM. Dalam sambutannya beliau mengungkapkan bahwa pelaksanaan Shalat Idul Fitri ini merupakan puncak dari rangkaian kepanitiaan PARAMADIKA 1434 H (Panitia Ramadhan dan Idul Fitri di Kampus) yang selama sebulan penuh melaksanakan program-programnya, di antaranya Kajian sore, Tabligh Akbar, Tarhib Ramadhan, Pesantren Liburan Mahasiswa, bakti sosial, dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Dalam khutbahnya khatib menekankan pentingnya melaksanakan puasa di bulan Ramadhan sebagai bukti ketaaqwaan seorang hamba kepada tuhannya. Selain itu beliau juga mengungkapkan bahwa ada banyak faedah yang bisa didapat selama kita melaksanakan puasa, khususnya bagi kesehatan tubuh.

1079375_363014733801349_1827051317_n

“… konsep ummat islam yang beriman dan bertaqwa tidak lain adalah, bahwa tubuh yang berenergi, yang dijaga aspek fisiknya, semata-mata untuk memberikan kemudahan dalam melakukan berbagai aktivitas dalam konteks kita sebagai hamba yang harus beribadah kepada Allah SWT.”

Lebih lanjut, khatib menegaskan kepada jamaah bahwa sebagai ummat muslim diharapkan setelahnya melaksanakan puasa sebulan penuh akan terbentuk sebuah pribadi yang mampu mengendalikan diri terhadap nafsu yang bersifat merusak.

“sebagai ummat muslim yang telah melatih diri selama satu bulan lamanya maka diharapkan dengan pengendalian diri terhadap nafsu yang bersifat merusak, menjadi nafsu yang berpasrah dan taat kepada Allah SWT.”

Khatib mengakhiri khutbahnya dengan pembacaan doá yang intinya mengharapkan ampunan dan ridho Allah selama sebulan penuh dan juga mengharapkan dengan melaksanakan puasa di bulan ramadhan ini semua muslim bisa menjadi insan yang lebih bertaqwa kepada Allah SWT. Menurut beliau perumpamaan orang yang bertaqwa seperti halnya lebah yang senantiasa memberikan kebaikan kepada sesamanya.

Shalat idul fitri ini berakhir pada pukul 07.30 WIB. Di antara jamaah yang ada hadir pula Dewan Pembina DKM Unpad, di antaranya Prof. Himendra Wargahadibrata dan Ust. Tb. Chaeru Nugraha, M. Hum. Di akhir pelaksanaan shalat Idul Fitri jamaah berbaur dengan yang lainnya untuk bermusafahah dan saling memohon maaf satu sama lainnya.

Alhamdulillah dari awal sampai akhir kegiatan sahalat idul fitri 1434 H berjalan dengan lancar dan tertib.

Laporan Oleh : (RN dan RA).
1148026_363014597134696_51035218_n


Silakan Download isi Khutbah di sini:

KHOTBAH-IEDUL-FITRI-1434-Setiawan-rev1bhs

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1434H

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1434H

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1434H

Seluruh Keluarga Besar Dkm Unpad mengucapkan : “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1434 H, Taqobalallahu minna wa minkum taqobbal yaa karim”

Mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah menerima ibadah puasa kita dan mengampuni dosa-dosa kita. semoga Allah swt menganugerahkan kepada kita singgasana keimanan yang kokoh, mahkota ketakwaan yang bercahaya dan tekad dakwah yang tiada dapat ditundukkan.