Tipe Hati Seorang Hamba

Oleh: Riki Nashrullah (Pengurus Aktif DKM Unpad)

 

hatiDalam keseharian kita sering mengalami yang namanya siklus kehidupan. Kadang Allah memberikan hadiah berupa kesehatan, namun kadang pula kita diberikan kondisi yang sama sekali tidak kita harapkan, yaitu sakit. Di saat kita merasakan adanya gejala sakit menimpa tubuh kita, maka apa pun akan kita lakukan untuk mengatasi rasa sakit itu.

Di kala kita mengidentifikasi sakit kita masih biasa-biasa saja, kita pun buru-buru pergi ke warung untuk mencari obat yang mampu menyembuhkan rasa sakit itu. Ketika kita sudah mengidentifikasi rasa sakit kita sudah mulai berat, maka kita pun akan bergegas pergi ke dokter untuk memeriksa sakit kita supaya bisa secepatnya diatasi. Kadang kala kita juga sering mengidentifikasi sakit kita sudah berada dalam kondisi kronis (kritis), kita pun akan mengerahkan sebesar apa pun uang kita untuk biaya perawatan kita di rumah sakit. Itulah kondisi-kondisi di saat kita sudah mengidentifikasi adanya sakit dalam tubuh kita. Tipikal sakit seperti ini merupakan tipikal sakit lahiriah.

Aneh memang, ketika kita sedang merasakan sakit lahiriah maka apa pun akan kita lakukan untuk mengobati sakit tersebut. Akan tetapi kita sering tidak menyadari bahwa yang merasakan sakit itu bukan hanya lahiriah saja, melainkan bathiniah kita pun mempunyai potensi untuk merasakan sakit. Ya, sakit bathiniyah yang sering tidak teridentifikasi keberadaannya namun memiliki efek yang sangat besar ketika kita tidak sesegera mungkin mengobatinya.

Ketika sakit lahiriyah menimpa tubuh kita, makanan dan minuman selezat apa pun akan terasa pahit di lidah. Itulah fenomena yang ada dan menimpa kebanyakan orang yang mengalami sakit. Meskipun pada realitanya makanan dan minuman yang disuguhkan kepada orang yang sakit itu mempunyai rasa yang sangat lezat dan nikmat. Buah-buahan yang segar pun sering disuguhkan, bahkan sampai mencari makanan apa pun yang dirasa paling nikmat hanya untuk menyenangkan hati si orang sakit dengan harapan besar ia akan memakannya meskipun hanya sedikit. Akan tetapi karena rasa sakit yang menimpa itulah makanan dan minuman selezat apa pun akan dirasa pahit dan tidak mengenakkan.

Begitu pun ketika kita dilanda sakit bathiniyah. kadang kala kita merasa malas dalam melaksanakan ibadah, yang jelas-jelas itu merupakan bukti penghambaan kita kepada Allah SWT. Shalat berjamaah di masjid dirasa berat, shalat malam pun dirasa pahit dan memberatkan, shaum sunnah enggan dilaksanakan, dan membaca ayat suci Al-quran pun dirasa memuakkan. Padahal ibadah-ibadah tadi kalau kita laksanakan akan terasa lezat dan nikmat. Bagaimana tidak, Allah SWT. Telah menjanjikan kepada siapa saja yang membaca satu huruf dalam Al-quran dengan balasan pahala. Kalau saja kita dalam satu hari membaca puluhan ayat yang mengandung ratusan bahkan ribuan huruf, maka akan dibalas oleh Allah SWT. Satu huruf dalam al-qur’an dengan pahala. Sudah berapa pahala yang akan kita dapatkan kalau saja membaca alqur’an kita laksanakan di setiap harinya.

Itulah fenomena-fenomena yang sering kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan dari manusia hanya menyadari dan mengidentifikasi penyakit lahiriyah saja, tetapi dikala berbicara penyakit bathiniyah kebanyakan dari orang sering terlupakan bahkan tidak menyadari bahwa bathiniyahnya sedang tidak beres (sakit, pen).

Bahkan seorang yang bathiniyahnya sedang sakit dikala dibacakan ayat al-quran tidak akan ada pengaruh apa pun dalam dirinya. Padahal Shaikh Al-Imam Abd. Al-Qadim Al-Jauzi pernah mengatakan bahwa salah satu ciri orang yang beriman itu ialah dikala dibacakan ayat suci Al-qur’an maka hatinya akan bergetar. Matanya akan meneteskan air mata dikala dibacakan ayat yang menjelaskan tentang siksa neraka karena ketakutannya terhadap siksaan di akhirat kelak.

Abdu Al-Qadim Al-Jauzi membagi kriteria hati manusia menjadi tiga jenis. Pertama, Qalbun Mayyitun (Hati yang mati). tipikal hati seperti ini yaitu hati yang diliputi kegelapan di setiap sudutnya. Tidak ada sedikit pun celah cahaya untuk menerangi satu sudut saja dalam hati ini. Hati ini adalah hati yang dimiliki oleh orang kafir dan murka kepada Allah. Hatinya disinggahi oleh dorongan syahwat dan penuh dengan godaan syaitan. Bagaimana pun kondisinya, hati jenis ini akan sulit menerima kebenaran dalam bentuk apa pun.

Kedua, Qalbun Maridlun (Hati yang sakit). Yaitu hati yang sudah mendapatkan penerangan dengan cahaya Allah. Akan tetapi masih ada satu sudut saja dalam hati ini yang dilingkupi kegelapan yang sangat. Dan kegelapan ini pun berpotensi masuknya godaan dan dorongan syahwat untuk melakukan aktivitas maksiat kepada Allah. Tipikal hati seperti ini akan sembuh ketika diobati dengan penuh taqarrub kepada Allah dan bertaubat atas apa-apa yang telah dilakukannya selama ini. Andai saja hati ini tidak sesegera mungkin diobati maka hati ini pun akan berpotensi menjadi hati yang mati.

Ketiga, Qalbun Saliim (Hati yang selamat/sehat). Jenis hati ini adalah hati yang dipenuhi cahaya iman dan tidak ada sedikit pun kegelapan menghinggapi di setiap sudutnya. Hati yang dimiliki orang-orang beriman kepada rabb-nya, menghambakan penuh totalitas dirinya untuk maunya Allah. Jenis hati ini juga jenis hati yang dipenuhi pahala-pahala kebajikan di setiap detiknya. Bagaimana tidak, hati yang sehat akan senantiasa memaksa pemiliknya untuk terus menghamba kepada Allah dan melaksanakan apa-apa yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Hati inilah yang akan menuntun pemiliknya untuk terus bertaqarrub kepada Allah dengan penuh totalitas. Dan dengan hati yang selamat ini pula lah pemiliknya akan dilayakkan oleh Allah untuk menempati surga-Nya, yang kita kekal di dalamnya.

Lantas sekarang, tanyakanlah pada diri kita. Termasuk tipe yang manakah kita?. Apakah kita mau masuk ke dalam barisan orang-orang yang mempunyai hati yang mati?, ataukah kita akan masuk ke dalam barisan orang-orang yang mempunyai hati yang sakit?, ataukah kita akan memilih menjadi bagian dari orang-orang yang mempunyai hati yang selamat. Semuanya bergantung kepada pilihan kita. Dan setiap pilihan akan penuh dengan konsekuensi.

Idealnya, seorang muslim yang mempunyai visi yang jelas dalam hidupnya harus memilih menjadi bagian dari orang-orang yang berhati selamat. Bagaimana pun juga, seorang muslim akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan hidupnya yang penuh konsekuensi. Maka dengan memilih untuk menjadi bagian orang berhati selamat, insya Allah hidup kita pun akan dipenuhi dengan dorongan semangat dalam menghamba kepada Allah SWT.
Wallahu A’lam Bi Ash-Shawab [ ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *