Untuk Pak Kasmin, Marbot Masjid UNPAD yang Berpulang Pagi Ini

pak kasminoleh: Darmawan Sepriyossa (Aktivis Bhakti DKM UNPAD)

Jakarta– Pak Kasmin, ini adalah alpa saya kesekian kalinya. Bukan karena seperti berpuluh tahun lalu, saat saya tak bisa membantu menyapu halaman Masjid UNPAD karena harus ikut kuliah pagi dulu. Bukan karena di akhir bulan saya telat mengambil jatah beras dari Dewan Kemakmuran Masjid, sehingga waktu Bapak dan teman-teman menahan lapar jadi melar.

Tentu, ini pun permintaan maaf yang entah keberapa kali untuk janji silaturahmi yang selalu saja tak terbukti. Karena bukankah yang terjadi akhirnya kita bertemu di waktu-waktu sempit dan sulit? Satu dua jam sebelum saya harus pergi untuk urusan yang selalu saja saya salah kira sebagai urusan inti. Lihatlah, tidakkah sejatinya saya tak pernah menjadikan silaturahmi kita itu urusan utama mengingat sekian tahun kebersamaan kita?

Padahal, tidakkah seharusnya sambal terasi dan buah leunca, lauk yang Bapak dan teman-teman penjaga Masjid UNPAD jadikan teman nasi di seretnya kantong akhir bulan, bisa mengingatkan dan mengeratkan silaturahmi? Saat itu kami, para mahasiswa miskin yang sok jadi aktivis untuk bisa menumpang tidur di masjid, selalu saja merecoki.

Setiap akhir bulan, manakala kiriman wesel belum datang atau tak satu pun tulisan dimuat di berbagai harian, saya akan datang ke pojok belakang masjid di waktu-waktu makan. Ikut menghabiskan jatah yang menjadi hak Bapak dan teman-teman. Seringkali nasi, sambal terasi dengan leunca tadi. Atau nasi yang diliwet bersama ikan asin juga teri. Lihat, jarangnya saya beranjang sana setelah wisuda, jelas menunjukkan lemahnya rasa tahu diri saya.

Saya tahu berapa yang Bapak terima setiap bulan untuk pengabdian itu. Untuk terbangun di pagi buta dan bergantian melantunkan adzan pertama. Lalu manakala Subuh usai, Bapak dan teman-teman segera membersihkan masjid. Dari halaman yang dikotori guguran daun, kertas tissue yang terserak di area akhwat, hingga menyikat sudut lubang peturasan yang tak jarang masih menyisakan sisa-sisa jorok pemakainya.

Segala macam kerja, hingga menjaga sepatu para mahasiswa agar kekhusyukan mereka berdialog dengan DIA tetap terjaga. Meski sesekali ikut menyingsingkan lengan baju, peran kami para mahasiswa yang mengaku aktivis masjid ini tentu jauh dari membantu.

Seingat saya, Bapak tak pernah sekali pun mengeluhkan besaran itu. Setiap kali saya mencoba memancing pun, segera Bapak berkelit dan mencari bahan obrolan lain. Lalu ditemani kopi hitam, kita pun mengobrol di pinggiran Dipati Ukur hingga larut malam. Sejatinya, malam-malam itu banyak mengisi hati dan benak saya akan hidup, kesabaran dan keyakinan.

Sampai tadi pagi, saat kabar kepergian Bapak saya terima. Begitu menghunjam dada, mengingatkan betapa saya malas menjaga hubungan saudara. “Pak Kasmin, karyawan Masjid UNPAD, telah meninggal dunia di Cirebon,” bunyi pesan pendek itu.

Lalu setelah mengontak sekian teman, saya mendapatkan cerita yang mengiringi kepergian Bapak. Cerita yang terus terang, membuat saya cemburu.

Bapak, Allah selalu punya cara sendiri untuk menunjukkan kasih sayang-Nya. Untuk perjalanan pulang, DIA memilihkan Bapak hari terbaik dalam sepekan. Jumat, penghulunya hari yang dipercaya menunjukkan kebaikan si mati. Dia juga meminta malaikat-Nya menunggu dengan sabar, sebelum menyapa dan membimbing ruhmu terbang.

Malaikat itu menunggu hingga DIA membuat Bapak gering dan merasa harus pulang kampung ke Losari, Selasa (21/4) lalu. Hingga datang hari baik ini, pagi tadi. Hingga Bapak berjalan ke masjid, menegakkan subuh berjamaah. Hingga selesai semua sujud itu, lalu Pak Kasmin pulang dan terbaring.

Saat itulah Izrail menyapa, menyentuh dada Bapak, menarik nyawa hingga tak urung keluar suara dari tenggorok Bapak. Suara yang membuat seorang anggota keluarga mendekat dan menggoyang tubuh Bapak, sekitar pukul 6 pagi itu. Saat itu ternyata Bapak telah berangkat pulang. Kembali kepada Kekasih; pulang ke rumah yang sama-sama kita tinggalkan di masa azali. Ah, bagaimana kami tak akan mencemburui cara kembalimu, Pak Kasmin?

Saya segera teringat sebuah hadits, manakala tahu usiamu sekitar 65. Hadits itu berbunyi,”Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah menciptakan Malaikat yang turun setiap malam, berseru memanggil kalian semua.”Hai manusia yang berumur 20 tahunan, bekerja keraslah kalian. Hai manusia yang berumur 30 tahunan, janganlah kamu tertipu kehidupan dunia. Hai manusia yang berumur 40 tahunan, apa yang sudah kamu persiapkan untuk berjumpa dengan Tuhanmu?Hai manusia yang berusia 60 tahunan, sudah tiba masanya menuai panen”

Memang, sudah tiba masamu menuai panen, Pak Kasmin. Sekian puluh tahun, bukan hanya Masjid UNPAD yang kau bersihkan. Mungkin pula hati dan benak sekian generasi mahasiswa, sebab di setiap zaman mahasiswa papa itu tampaknya selalu ada. Mereka yang berkenalan, bergaul, dan menerima obrolanmu yang sejatinya petuah itu. Dari sisi ini saja, berapa banyak pahala akan kau terima, Pak?

Kini, kami yang berjejal di antrean hanya bisa mendoakan. Doa yang mungkin sebenarnya sekadar penegas bahwa selama hidup kau tak pernah menggoreskan duka di hati sesama. “Salamun ‘alaihi yauma yamuutu wa yauma yub’atsu hayya. Sejahteralah bagi dia pada hari dia mati, dan sejahteralah dia pada hari dibangkitkan hidup kembali.”

Pak Kasmin, semoga Kau kelak memenuhi doa Imam Ali bin Abi Thalib yang beliau tulis dalam puisinya, Al-Qashidah Al-Ashma’. Agar di sana kau memiliki rumah yang,” Ridhwan penjaganya, Ahmad tetangganya, dan Sang Maha Kasih pembangunnya.Burung bertengger di pepohonan meneriakkan tasbih dalam nyanyiannya.Siapa yang membeli rumah di Firdaus, makmurkanlah dengan raka’at shalat di kegelapan malam yang ditegakkannya.”

Pak Kasmin, bahkan saat semua ini saya tuliskan, saya yakin dalam perjalanan yang tengah kau jalani kini, kau telah siap mengatakan dalam dialogmu dengan DIA, Kekasih kita semua.”Inni Tubtu ilaika wa inni minal Muslimin, Aku kembali kepadaMu dan aku termasuk orang-orang yang pasrah.” [ dsy/Inilah]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *